RADARMAJAPAHIT.JAWAPOS.COM – Dusun Kademangan, Desa/Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto menyimpan situs sejarah diduga peninggalan Kerajaan Majapahit. Seperti Candi Winong. Dulunya diduga difungsikan sebagai tempat beribadah umat Hindu.
Candi yang terletak di tengah kawasan pemukiman penduduk ini belum banyak diketahui khalayak. Juru pelihara (jupel) Candi Winong, Rusmiati mengungkapkan, penamaan candi diambil dari kata winong (jenis pohon). Menyusul areal candi tersebut dikelilingi rimbunan pepohonan winong.
”Beberapa pohon sengaja dibungkus kain kuning, karena dianggap sakral, sekaligus menjaga kondisi pohon tetap terjaga,” ujar perempuan 54 tahun itu.
Struktur candi ini menyerupai sebuah bukit dengan susunan bebatuan andesit dan batu bata berukuran besar. Serta sebuah pohon winong besar di tenggahnya. Terdapat susunan batu andesit berbentuk anak tangga di sisi utara.
Candi Winong disinyalir saksi bisu peninggalan Kerajaan Majapahit pada abad ke 13. Tak hanya itu, pada era Kerajaan Majapahit tempat ini difungsikan sebagai tempat suci umat Hindu hingga pertemuan antarkerajaan. Seperti Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Singosari.
”Perpaduan Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Singosari disimbolkan berupa batu bata dan batu andesit,” kata Rusmiati, Rabu (20/12). Candi Winong telah didaftarkan sebagai cagar budaya yang dilindungi Balai Pelestarian dan Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim.
Namun, sejauh ini belum ada kabar terkait rencana ekskavasi maupun pemugarannya. ”Jika ada rencana ekskavasi, harapannya dibangunkan sebuah gapura di samping pagar situs,” tuturnya.
Di samping itu, tempat sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit ini disakralkan warga dan sejumlah wisatawan yang berkunjung. Mereka meyakini jika mengambil sesuatu dari candi tersebut akan mendapatkan sial.
”Situs ini sering difungsikan warga sebagai rangkaian acara adat. Seperti, khitanan, pernikahan, memperingati bulan Muharram atau Suroan dan ruwahan,” ujarnya.
Tak jarang candi ini dikunjungi pelajar hingga wisatawan dari beragam daerah. Seperti Gresik, Krian, Sidoarjo, Bali dan Kalimantan. Candi dibuka untuk umum setiap hari tanpa tarif sepeser pun. ”Siapa pun boleh mengunjungi situs ini. Namun, harap lapor jupel terlebih dahulu,” tandasnya. (moch. khasib)
Editor : Moch. Chariris