Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Ini Navigasi Laut Era Majapahit, Ekspedisi Maritim hingga ke Madagaskar

Chariris • Rabu, 9 Agustus 2023 | 16:07 WIB
BERSEJARAH: Relief Candi Borobudur menggambarkan budaya maritim dan kapal kuno abad ke-8 Masehi yang menjadi cikal bakal Jung Jawa, kapal layar era Majapahit. (Sumber Foto: Kemendikbud/Balai Konservasi Borobudur)
BERSEJARAH: Relief Candi Borobudur menggambarkan budaya maritim dan kapal kuno abad ke-8 Masehi yang menjadi cikal bakal Jung Jawa, kapal layar era Majapahit. (Sumber Foto: Kemendikbud/Balai Konservasi Borobudur)


Majapahit disebut sebagai kerajaan maritim terbesar di masanya. Keperkasaan sektor perdagangan Wilwatikta didukung dengan kekuatan maritim yang memadai. Selain melakukan ekspansi wilayah Nusantara, konon kapal layar era Majapahit diyakini mampu menjalani ekspedisi maritim hingga ke Madagaskar, pesisir Afrika bagian selatan.





Kapal layar era Majapahit disebut Djong, Jong, ataupun Jung Jawa yang merupakan kapal tradisional. Kapal layar berukuran besar tersebut dinakhodai para pelaut Nusantara yang andal. Pelaut era Majapahit, abad ke-13 hingga 16 Masehi, telah mengenal navigasi untuk berlayar di tengah lautan lepas. Meskipun teknologi navigasi laut saat itu tidak sacanggih era modern saat ini. ”Memang saat itu sudah mengenal navigasi untuk menentukan arah dan posisi kapal. Bahkan, saat itu bisa melaut sampai Madagaskar. Tapi (teknologi navigasi) sederhana, tidak secanggih sekarang,” ujar Anam Anis, pemerhati peninggalan budaya Majapahit.





Dalam catatan sejarah, untuk menentukan posisi kapal saat mengarungi lautan luas, masyarakat Majapahit punya cara tersendiri. Pada siang hari, letak matahari dan kondisi geografis Nusantara bisa menjadi acuan atau tetenger. Yang memungkinkan pelaut Majapahit mencari baringan pada pulau, gunung, ataupun tanjung saat berlayar menyusuri pantai. Sedangkan saat malam hari, mereka mengacu pada rasi bintang tertentu di langit.





”Dari hasil kajian lembaga penelitian Universitas Diponegoro Semarang, saat itu ada beberapa rasi bintang yang dianggap penting bagi pelayaran. Seperti bintang mayang atau biduk,” bebernya. Sehingga, saat itu pengetahuan astronomi menjadi salah salu kecakapan penting bagi para pelaut untuk menentukan arah. Seiring berjalannya waktu, pelaut Nusantara mulai mengenal alat navigasi semacam kompas dari kapal Gujarat, Arab, Persia, ataupun Cina yang mengunjungi kepulauan Nusantara.





Tepatnya, sebelum bangsa Portugis masuk ke wilayah Nusantara di awal abad ke-16 Masehi atau sekitar tahun 1511. ”Disebutkan juga saat itu sudah ada kompas yang mendukung untuk menentukan arah berlayar. Jadi, mereka bisa berlayar jauh (sampai tujuan dan pulang) karena navigasi ini,” tandas Anam. Namun berbagai sumber menyebut, perkembangan persepsi arah mata angin kala itu masih belum sama antara suku bangsa satu dengan lainnya. (martda vadetya/imron arlado)





Photo
Photo
Gambaran kapal layar kuno tergurat di salah satu panel Relief Candi Penataran yang dibangun sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit. (Sumber Foto: BPK XI Wilayah Jatim)

Para pemain Persebaya merayakan gol kemenangan yang dicetak dalam laga melawan Bhayangkara Presisi FC di Stadion Patriot Candrabragha Bekasi. (ISTIMEWA)
Para pemain Persebaya merayakan gol kemenangan yang dicetak dalam laga melawan Bhayangkara Presisi FC di Stadion Patriot Candrabragha Bekasi. (ISTIMEWA)
Editor : Chariris