Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Mengenal 7 Kasta di Majapahit dan Perannya dalam Masyarakat

Imron Arlado • Rabu, 29 Oktober 2025 | 03:00 WIB
Ilustrasi kelas sosial yang ada pada masa Majapahit (Foto: Pinterest)
Ilustrasi kelas sosial yang ada pada masa Majapahit (Foto: Pinterest)

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Kerajaan Majapahit dikenal memiliki struktur sosial yang kompleks dan berbeda dari sistem kasta yang umum dikenal di India.

Di Majapahit, sistem kasta membagi masyarakat menjadi tujuh golongan, bukan hanya empat golongan seperti biasanya, berdasarkan peran, tugas, dan pengabdian mereka dalam kehidupan masyarakat dan negara.

Berbeda dengan sistem kasta yang kaku seperti feodal, sistem kasta di Majapahit bersifat dinamis, memberi kesempatan bagi seseorang untuk berpindah ke tingkat sosial yang lebih tinggi jika memiliki kemampuan dan prestasi yang baik.

Pembagian kasta juga ditentukan oleh tingkat keterikatan seseorang dengan urusan duniawi dan materi. Semakin terikat seseorang dengan urusan dunia, semakin rendah martabatnya secara spiritual.

Sebaliknya, orang yang lebih menjauh dari urusan dunia biasanya memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Berikut adalah ketujuh golongan kasta yang ada pada masa Majapahit:

  1. Brahmana

Golongan tertinggi yang terdiri dari para pendeta, guru, dan tokoh budaya.

Mereka hidup dengan fokus pada spiritualitas dan pengabdian pada kebenaran. Biasanya mereka tinggal di tempat yang jauh dari kota untuk menjauhi urusan dunia. Brahmana dianggap sebagai pemandu moral dan agama bagi masyarakat.

  1. Ksatria

Golongan ini terdiri dari raja, bangsawan, menteri, perwira militer, dan pejabat kerajaan.

Mereka tidak diperbolehkan memilik harta pribadi berlebihan karena segala kekayaan dianggap milik negara. Ksatria dianggap sebagai pelindung dan pelayan negara yang bergantung pada negara untuk hidup.

  1. Waisya

Golongan ini mencakup petani, seniman, tukang bangunan, nelayan, pedagang, dan pengrajin.

Mereka memiliki keterikatan dengan urusan duniawi karena memiliki tanah dan alat produksi, meskipun mereka tetap dihormati karena memberi kebutuhan pokok bagi masyarakat.

  1. Sudra

Golongan ini terdiri dari pelayan, tumbal, dan pekerja mandor yang membantu golongan yang lebih tinggi.

Mereka tidak diperbolehkan membicarakan hal-hal agama karena dianggap terlalu terlibat dengan urusan materi dan dunia.

  1. Candala

Anggota golongan ini biasanya berasal dari perkawinan antar kasta atau melakukan pekerjaan terkait kematian dan kekerasan, seperti algojo dan penjagal.

Meskipun memiliki peran penting dalam hukum dan negara, mereka dianggap memiliki status sosial yang rendah.

  1. Mleccha

Orang asing yang tinggal di wilayah Majapahit dengan status sosial yang rendah, biasanya sebagai pelayan atau buruh.

Untuk meningkatkan status, mereka harus menunjukkan keahlian tertentu dan setia kepada negara.

  1. Tuccha

Golongan terendah yang terdiri dari orang-orang yang melakukan tindakan merusak masyarakat seperti pencuri, penipu, pelacur, dan koruptor.

Mereka dianggap merusak keadilan dan martabat sosial.

Sistem kasta di Majapahit berbeda dengan sistem kasta di India atau sistem kasta kolonial karena tidak kaku dan tidak mutlak turun-temurun. Setiap orang memiliki kesempatan untuk mengubah status sosialnya berdasarkan kemampuan dan usaha.

Tokoh-tokoh penting dalam kerajaan seperti Gajah Mada dan Ken Arok adalah contoh mobilitas sosial, yang berasal dari kalangan biasa namun mampu meraih posisi yang tinggi berkat kemampuan dan ketekunan mereka. (RIZMA)

Editor : Martda Vadetya
#waisya #ksatria #candala #kasta #tuccha #mleccha #sudra #brahmana