Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Rencana Pernikahan Berujung Tragedi Berdarah, Berikut Ini Kronologi Perang Bubat

Imron Arlado • Minggu, 31 Agustus 2025 | 23:48 WIB
Ilustrasi Tragedi Perang Bubat (Sumber Foto: Pinterest)
Ilustrasi Tragedi Perang Bubat (Sumber Foto: Pinterest)

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Perang Bubat merupakan salah satu peristiwa paling tragis dalam sejarah Nusantara. Pertempuran ini terjadi pada tahun 1357M, antara dua kerajaan besar yaitu Kerajaan Majapahit dan Sunda.

Perang Bubat menjadi salah satu penyebab meredupnya Kerajaan Majapahit. Konflik ini bermula dari rencana pernikahan yang awalnya diharapkan bisa mempererat hubungan antar kerajaan.

Kronologi Perang Bubat

Raja Majapahit, Hayam Wuruk, berniat mempersunting Dyah Pitaloka Citraresmi, putri dari Raja Sunda, Prabu Maharaja Linggabuana. Pernikahan ini diharapkan menjadi simbol persatuan dan memperkuat ikatan diplomasi antara kedua kerajaan.

Pernikahan ini diusulkan digelar di Majapahit, sesuai dengan tradisi dan atas permintaan pihak Majapahit. Dengan penuh kebanggaan, rombongan dari Kerajaan Sunda berangkat ke Trowulan, ibu kota Majapahit, untuk mengantarkan sang putri.

Namun, niat baik tersebut berubah menjadi kekacauan setelah Mahapatih Majapahit, Gajah Mada, mulai ikut campur. Gajah Mada yang telah berjanji Sumpah Palapa, berambisi untuk menaklukkan seluruh kerajaan di Nusantara.

Gajah Mada meminta agar pernikahan Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka dianggap sebagai takluknya Sunda terhadap Majapahit. Permintaan itu jelas ditolak oleh Kerajaan Sunda karena melukai harga diri kerajaannya.

Hal ini mengakibatkan ketegangan yang semakin meningkat antara kedua kerajaan. Puncak ketegangan terjadi saat pasukan Majapahit di bawah komando Gajah Mada menyerang tempat peristirahatan Kerajaan Sunda di Bubat, Trowulan.

Pasukan Majapahit, yang jumlahnya lebih banyak langsung mengepung rombongan Kerajaan Sunda. Pertempuran tak bisa terhindarkan, meski pihak Sunda tetap berusaha mempertahankan martabat. Namun, perlawanan mereka berakhir dengan kekalahan telak.

Prabu Maharaja Linggabuana bersama banyak bangsawan serta prajurit Sunda gugur dalam pertempuran. Peristiwa ini menyedihkan bagi Kerajaan Sunda karena tidak hanya pasukan yang hancur, tetapi juga harga diri kerajaan yang direndahkan.

Di tengah kekacauan tersebut, Dyah Pitaloka melakukan tindakan pemberani yang selalu diingat. Dengan memasukkan konde ke dadanya, Ia memilih bunuh diri untuk menjaga kehormatan keluarga dan kerajaannya. Kisah tragis ini membuat Perang Bubat tidak hanya tercatat sebagai pertempuran, melainkan juga simbol kehormatan yang ternodai.

Peristiwa ini memicu retaknya hubungan antara Kerajaan Majapahit dan Sunda serta berdampak pada dinamika politik dan budaya Nusantara. Raja Hayam Wuruk baru mengetahui adanya perang tersebut setelah pertempuran selesai, dirinya merasa sangat kecewa kepada Gajah Mada.

Perang Bubat pada akhirnya juga membawa keretakan hubungan antara Raja Hayam Wuruk dan patihnya. Sebagai akibatnya, Gajah Mada diasingkan dari kegiatan politik istana. Dia juga diberikan tanah di wilayah Madakaripura (Probolinggo).

Sementara itu, rakyat Sunda memiliki dendam mendalam terhadap Majapahit. Di antara kalangan kerabat Kerajaan Sunda, diberlakukan aturan esti larangan ti kaluaran yang salah satu isinya tidak memperbolehkan menikah dengan orang Majapahit.

Rizma/FADYA

Editor : Imron Arlado
#perang bubat #kerajaan sunda #majapahit #Sumpah Palapa #raja hayam wuruk #gajah mada #prabu linggabuana #dyah pitaloka #kerajaan majapahit