JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Majapahit telah dikenal luas sebagai kerajaan yang megah dan berjaya pada masanya.
Namun, kemegahan dan kejayaan tersebut perlahan memudar saat memasuki abad ke-15, Majapahit mengalami pelemahan dan keruntuhan dari dalam.
Perebutan tahta, konflik internal keluarga kerajaan, pemberontakan bangsawan, dan melemahnya kontrol terhadap daerah bawahan perlahan-lahan memperkeruh kondisi Majapahit.
Di saat yang sama, muncul kerajaan baru dari pesisir utara Jawa, yakni kesultanan Demak, yang dipimpin oleh Raden Wijaya.
Kerajaan Demak dipercaya lahir dari pengaruh agama Islam yang semakin berkembang di Jawa, posisi kerajaan ini pun seringkali dianggap sebagai penerus politik kerajaan Majapahit.
Pertempuran ini mulanya dilatarbelakangi dan dipicu oleh berbagai hal. Latar belakang dan pemicu yang paling menonjol adalah perebutan kekuasaan, persaingan, dan dinamika hubungan keluarga raja terakhir Majapahit dengan pemimpin kerajaan Demak yang terselip dendam di dalamnya.
Menjelang akhir abad ke-15, Majapahit terus mengalami pelemahan hingga tidak lagi sebesar pada masa kepemimpinan Gajah Mada dan Hayam Wuruk.
Dalam internal kerajaan pun terjadi perebutan kekuasaan antara Bhre Kertabumi atau Brawijaya V yang saat itu menjabat sebagai raja terakhir Majapahit dengan Girindrawardhana atau Dyah Ranawijaya.
Dyah Ranawijaya sendiri merupakan keluarga kerajaan Majapahit yang menguasai wilayah Daha atau kediri. Ketegangan konfliknya dengan Brawijaya V membuat pusat pemerintahan rapuh.
Dalam kondisinya yang rapuh, di saat yang sama perang besar terjadi antara pasukan Majapahit dari Daha atau Kediri yang dipimpin oleh Girindrawardhana melawan pasukan gabungan Demak dan pasukan Majapahit dari Trowulan yang dipimpin oleh Raden Patah dan Sunan Ngudung.
Jalannya perang ini diawali dengan Girindrawardhana yang melancarkan serangan sekaligus kudeta ke Trowulan dan berhasil menggugurkan Bhre Kertabumi atau Brawijaya V.
Langkah selanjutnya yang diambil oleh Girindrawardhana adalah memindahkan pusat peradaban Majapahit ke Daha (Kediri) dan mengangkat dirinya sebagai penguasa baru dengan gelar Brawijaya VI.
Kerajaan Demak yang mendengar kabar tersebut kemudian memanfaatkan keadaan dengan menyerang sisa kekuatan kerajaan Majapahit untuk memperebutkan kekuasaan dan warisan keluarga.
Perebutan kekuasaan dan warisan tersebut terjadi karena Raden Patah merupakan keturunan raja Brawijaya V. Ia merasa memiliki hak dan kewajiban untuk mengambil alih kekuasaan yang dianggap sebagai warisan keluarganya.
Pasukan demak dengan dipimpin oleh Raden Patah dan Sunan Ngudung kemudian melawan pasukan Majapahit yang saat itu didominasi oleh Girindrawardhana. Tetapi, Sunan Ngudung gugur di dalam pertempuran.
Baca Juga: Dibuat Secara Manual, Gerabah Era Majapahit Mesti Lalui Tahapan Panjang nan Rumit
Pertempuran kemudian tetap berlanjut dengan Sunan Kudus yang menggantikan Sunan Ngudung yang kemudian berhasil mengalahkan Majapahit yang saat itu dikuasai oleh Girindrawardhana setelah gugurnya Bhre Kertabumi atau Brawijaya V.
Pertempuran terakhir antara Majapahit dan Demak menandai berakhirnya kejayaan gemilang kerajaan Majapahit.
Pertempuran sengit yang diberi nama Sudarma Wisuta ini juga dikenang sebagai peristiwa penting dalam sejarah Jawa karena menandai pergeseran kekuasaan dari tradisi Hindu Buddha ke tradisi Islam. (FANEZA)
Editor : Martda Vadetya