Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Ritual Sati: Tradisi Tragis di Era Majapahit Antara Kesetiaan dan Pengorbanan

Redaksi Radar Mojokerto • Rabu, 30 Juli 2025 | 23:27 WIB
Di balik kemegahan kerajaan Majapahit yang dikenal akan kekuasaan dan budayanya, terdapat sebuah tradisi yang dimana mencerminkan sisi kelam nilai kesetiaan kala itu. sumber foto: Historia.ID
Di balik kemegahan kerajaan Majapahit yang dikenal akan kekuasaan dan budayanya, terdapat sebuah tradisi yang dimana mencerminkan sisi kelam nilai kesetiaan kala itu. sumber foto: Historia.ID

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Di balik kemegahan kerajaan Majapahit yang dikenal akan kekuasaan dan budayanya, terdapat sebuah tradisi yang mencerminkan sisi kelam nilai kesetiaan kala itu.

Ritual Sati atau di Jawa dikenal dengan istilah Pati Obong adalah praktik kuno yang berasal dari India, di mana seorang istri ikut dibakar hidup-hidup bersama jenazah suaminya sebagai bentuk kesetiaan dan pengabdian terakhir.

Ritual ini anggap sebagai lambang kehormatan dan kesetiaan sejati, namun ternyata ritual ini menyisakan cerita tragis tentang peran dan tekanan sosial terhadap perempuan.

Di era Majapahit, sati tidak hanya menjadi simbol kesetiaan, tetapi juga gambarkan kisah nyata tentang pengorbanan yang dibungkus dalam adat dan budaya.

Tradisi ini menyebar ke Nusantara seiring masuknya pengaruh Hindu, dan diyakini pernah dipraktikkan di lingkungan kerajaan Majapahit dan Bali.

 

Asal-usul dan Makna Ritual Sati

Ritual Sati berasal dari India kuno dan merupakan praktik pemakaman ekstrim di mana seorang janda membakar dirinya sendiri di atas tumpukan kayu kremasi suaminya.

Nama "Sati" diambil dari Dewi Sati, istri Dewa Siwa dalam mitologi Hindu. Menurut legenda, Sati membakar dirinya sebagai bentuk protes atas penghinaan ayahnya terhadap suaminya.

 

Makna Spiritual dan Sosial

 

Baca Juga: Raden Wijaya Pendiri Majapahit dan Strategi di Balik Runtuhnya Singhasari

 

Penyebaran dan Praktik

Meski dulu dianggap mulia, praktik ini kemudian dipandang sebagai bentuk penindasan terhadap perempuan dan secara resmi dilarang oleh pemerintah kolonial Inggris pada tahun 1829.

Ritual Sati ternyata bukan hanya praktik di India, jejaknya juga tercatat dalam sejarah Nusantara, khususnya di kerajaan Majapahit dan Bali.

 

Di Era Majapahit

Di Bali Masatia

 

 

Baca Juga: Masa Senja Sang Mahapatih: Mengulik Kisah Perjalanan Gajah Mada Menuju Moksa

Jejak Ritual Sati dalam Prasasti dan Naskah Kuno Majapahit

Menelusuri praktik Sati di era Majapahit memang menantang, karena tidak ada prasasti yang secara eksplisit menyebut ritual ini. Namun, ada beberapa sumber tertulis dan naskah kuno yang memberi petunjuk tentang keberadaan dan pengaruhnya:

Dari sendang mistis hingga ritual kesetiaan yang dramatis, kita bisa melihat betapa kaya dan kompleks budaya zaman itu. Sejarah bukan sekadar masa lalu. Namun juga mencerminkan  dari siapa kita hari ini. ANGELINA

 

Editor : Imron Arlado
#asal usul #ritual sati #sejarah #Pengertian #prasasti majapahit #Era Majapahit #Makna Spiritual #makna