JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Di balik kemegahan kerajaan Majapahit yang dikenal akan kekuasaan dan budayanya, terdapat sebuah tradisi yang mencerminkan sisi kelam nilai kesetiaan kala itu.
Ritual Sati atau di Jawa dikenal dengan istilah Pati Obong adalah praktik kuno yang berasal dari India, di mana seorang istri ikut dibakar hidup-hidup bersama jenazah suaminya sebagai bentuk kesetiaan dan pengabdian terakhir.
Ritual ini anggap sebagai lambang kehormatan dan kesetiaan sejati, namun ternyata ritual ini menyisakan cerita tragis tentang peran dan tekanan sosial terhadap perempuan.
Di era Majapahit, sati tidak hanya menjadi simbol kesetiaan, tetapi juga gambarkan kisah nyata tentang pengorbanan yang dibungkus dalam adat dan budaya.
Tradisi ini menyebar ke Nusantara seiring masuknya pengaruh Hindu, dan diyakini pernah dipraktikkan di lingkungan kerajaan Majapahit dan Bali.
Asal-usul dan Makna Ritual Sati
Ritual Sati berasal dari India kuno dan merupakan praktik pemakaman ekstrim di mana seorang janda membakar dirinya sendiri di atas tumpukan kayu kremasi suaminya.
Nama "Sati" diambil dari Dewi Sati, istri Dewa Siwa dalam mitologi Hindu. Menurut legenda, Sati membakar dirinya sebagai bentuk protes atas penghinaan ayahnya terhadap suaminya.
Makna Spiritual dan Sosial
- Kesetiaan Tertinggi: Sati dianggap sebagai simbol pengabdian dan kesetiaan mutlak seorang istri kepada suaminya.
- Pembersihan Dosa: Dalam kepercayaan Hindu, tindakan ini diyakini dapat menghapus dosa sang istri dan suami, serta meningkatkan status spiritual mereka di alam baka.
- Status Sosial: Di masa lalu, janda sering dianggap sebagai beban sosial. Sati menjadi cara untuk "menjaga kehormatan keluarga" dalam masyarakat patriarkal.
Baca Juga: Raden Wijaya Pendiri Majapahit dan Strategi di Balik Runtuhnya Singhasari
Penyebaran dan Praktik
- Ritual ini mulai populer pada masa Kerajaan Gupta (abad ke-4 hingga ke-6 M) di India Utara.
- Sati menyebar ke Nusantara seiring masuknya pengaruh Hindu, dan tercatat pernah dipraktikkan di lingkungan kerajaan Hindu di Jawa Timur dan Bali.
Meski dulu dianggap mulia, praktik ini kemudian dipandang sebagai bentuk penindasan terhadap perempuan dan secara resmi dilarang oleh pemerintah kolonial Inggris pada tahun 1829.
Ritual Sati ternyata bukan hanya praktik di India, jejaknya juga tercatat dalam sejarah Nusantara, khususnya di kerajaan Majapahit dan Bali.
Di Era Majapahit
- Pengaruh Hindu dari India membawa tradisi Sati ke Jawa Timur sejak abad ke-4 M.
- Tome Pires, penjelajah Portugis abad ke-16, mencatat bahwa ritual ini lazim dilakukan di lingkungan kerajaan Hindu di Jawa Timur.
- Meski tidak banyak bukti tertulis, praktik ini diyakini terjadi di kalangan bangsawan sebagai bentuk kesetiaan istri atau selir terhadap suami yang wafat.
Di Bali Masatia
- Di Bali, ritual ini dikenal sebagai Masatia (berarti “setia”).
- Cornelis de Houtman mencatat pada tahun 1597 bahwa 50 istri bangsawan Bali dibakar hidup-hidup bersama jasad suaminya.
- Jan Oosterwijck dari VOC menyaksikan pada tahun 1633 bahwa 140 wanita (termasuk budak dan selir) ikut dibakar dalam prosesi kremasi keluarga kerajaan.
- Ritual ini berlangsung hingga awal abad ke-20, dan baru dilarang secara resmi oleh Belanda pada tahun 1905
Baca Juga: Masa Senja Sang Mahapatih: Mengulik Kisah Perjalanan Gajah Mada Menuju Moksa
Jejak Ritual Sati dalam Prasasti dan Naskah Kuno Majapahit
Menelusuri praktik Sati di era Majapahit memang menantang, karena tidak ada prasasti yang secara eksplisit menyebut ritual ini. Namun, ada beberapa sumber tertulis dan naskah kuno yang memberi petunjuk tentang keberadaan dan pengaruhnya:
Dari sendang mistis hingga ritual kesetiaan yang dramatis, kita bisa melihat betapa kaya dan kompleks budaya zaman itu. Sejarah bukan sekadar masa lalu. Namun juga mencerminkan dari siapa kita hari ini. ANGELINA
Editor : Imron Arlado