JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Kerajaan Majapahit, yang berdiri pada tahun 1293 M hingga akhir abad ke 15, dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara.
Wilayah kekuasaannya membentang luas dari Sumatera hingga Papua, bahkan mencapai sebagian wilayah Asia Tenggara.
Namun, kejayaan Majapahit tidak hanya ditentukan oleh militansi dan politik ekspansinya, melainkan juga oleh kebudayaan yang kaya dan kompleks.
Penuh dengan simbolisme, mitologi, dan nilai spiritual. Salah satu simbol paling menonjol yang harus hadir dalam berbagai aspek kebudayaan Majapahit adalah naga.
Sosok naga bukan hanya makhluk mitologis, melainkan memiliki kedalaman makna yang menyentuh aspek kosmologi, kekuasaan raja, kesuburan alam, hingga keseimbanagn semesta.
Asal-usul Simbol Naga dalam Budaya Majapahit
Dalam budaya Majapahit, simbol naga merupakan warisan dari pengaruh budaya India, khususnya Hindu dan Buddha, yang telah lama bercampur dengan kepercayaan lokal.
Dalam mitologi Hindu, naga dikenal sebagai makhluk suci penjaga air dan bumi, seperti Naga Vasuki dan Shesha.
Dalam Buddhisme, naga sering digambarkan sebagai pelindung ajaran Dharma, seperti kisah Mucalinda, naga yang melindungi Buddha dari hujan saat bermeditasi
Perwujudan Naga dalam Kesenian Majapahit
Salah satu manifestasi paling nyata dari simbol naga di era Majapahit adalah dalam bentuk relief candi dan gerabah, serta ornamen arsitektur istana.
Naga Sering digambarkan dengan tubuh melingkar panjang, berwajah buas. Dan kadang-kadang dikombinasikan dengan unsur-unsur makhluk lain, seperti singa atau garuda, dalam bentuk mitologis makara.
Candi-candi seperti Candi Jago, Candi Surawana, dan Candi Tikus memiliki ukiran atau saluran air berbentuk naga.
Di Candi Tikus misalnya, kolam suci yang digunakan sebagai tempat pemandian ritual memiliki saluran air dengan bentuk naga, melambangakan kekuatan pembersihan dan kesuburan.
Naga Sebagai Penjaga Kosmos dan Kekuasaan
Dalam pandangan Majapahit, raja dipandang sebagai wakil dewa di bumi. Oleh karena itu, naga sebagai penjaga alam semesta juga menjadi perlindungan kekuasaan raja.
Simbol naga melambangakan keterikatan antara langit, bumi, dan dunia bawah juga sebuah konsep kosmologi yang menggambarkan keseimbangan semesta.
Raja yang mampu mengendalikan naga dianggap sebagai penguasa yang mampu menjaga harmoni antara kekuatan alam dan masyarakat.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa lambang keris pusaka, yang memiliki lekukan menyerupai naga, juga mengandung simbolisme serupa.
Mitos Lokal: Naga Basuki dan Dunia Bawah
Dalam masyarakat jawa kuno, terdapat kisah-kisah lisan tentang Naga Basuki, makhluk penjaga gunung dan air yang juga dianggap sebagai penyeimbang bencana alam.
Naga ini juga dipercaya tinggal di gunung atau dasar laut, dan muncul saat terjadi ketidakseimbangan kosmis dan juga seperti letusan gunung atau banjir besar.
Kisah ini selaras dengan konsep bahwa naga merupakan penguasa dunia bawah, yang tidak selalu jahat, melainkan justru menjaga keseimbangan.
Kehadiran naga dalam upacara keagamaan atau simbol kerajaan menunjkan bahwa Majapahit sangat menjunjung konsep keseuimbangan antara kekuatan terang dan gelap.
Naga sebagai Penjaga Identitas Budaya
Simbol naga dalam kebudayaan Majapahit bukan sekadar hiasan mitologis, tetapi merupakan representasi dari nilai-nilai spiritual, kekuasaan, dan kosmologi.
Kehadiran naga dalam seni dan arsitektur memperlihatkan betapa masyarakat Majapahit hidup dalam dunia yang penuh simbol dan makna.
Dengan memahami simbolisme naga, kita tidak hanya menelusuri jejak kepercayaan leluhur, tetapi juga melihat bagaimana Majapahit membangun identitas budaya yang kuat.
AILEEN ZNR
Editor : Imron Arlado