Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Mitos Candi Bajang Ratu yang Masih Dipercaya Hingga Kini, Untuk mengetahui Larangannya Simak Selengkapnya Disini

Imron Arlado • Senin, 5 Mei 2025 | 01:56 WIB
Mitos Candi Bajang Ratu yang Masih Dipercaya Hingga Kini, Untuk mengetahui Larangannya Simak Selengkapnya Disini
Mitos Candi Bajang Ratu yang Masih Dipercaya Hingga Kini, Untuk mengetahui Larangannya Simak Selengkapnya Disini

RADAR MAJAPAHIT – Candi Bajang Ratu merupakan salah satu situs bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit yang terletak di Dusun Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Bangunan ini menjadi simbol bisu kejayaan masa lalu Majapahit serta menampilkan keindahan dan kemegahan arsitektur khas era tersebut.

Terletak tak jauh dari Candi Tikus, Candi Bajang Ratu berdiri di atas lahan yang cukup luas.

Arsitekturnya mengusung gaya Paduraksa, yaitu gapura beratap. Struktur utamanya disusun dari bata merah, sementara bagian tangga dan ambang pintunya dibuat dari batu andesit, menambah keunikan dan nilai sejarah bangunan ini.

 

Sejarah Candi Bajang Ratu

Sejak awal didirikan, Candi Bajang Ratu ini belum pernah dipugar, kecuali usaha-usaha kondisional yang dilakukan oleh pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1915. Kemudian, pada tahun 1989 Candi Bajang Ratu mulai dipugar dan selesai pada tahun 1992.

 

Candi Bajang Ratu pertama kali tercatat dalam laporan Oudheidkundig Verslag pada tahun 1915. Nama "Bajang Ratu" berasal dari bahasa Jawa, yaitu kata bajang yang berarti kecil atau kerdil, dan ratu yang berarti raja. Nama ini diyakini merujuk pada Raja Jayanegara yang dinobatkan sebagai raja Kerajaan Majapahit saat usianya masih sangat muda.

 

Bangunan candi ini diperkirakan dibangun sebagai bentuk penghormatan terhadap Raja Jayanegara setelah wafatnya. Hal ini diperkuat dengan adanya relief Sri Tanjung pada bagian kaki gapura, yang menggambarkan kisah peruwatan atau penyucian diri dari dosa dan kemalangan. Relief tersebut memiliki makna simbolis yang erat kaitannya dengan pemuliaan arwah dan penyucian jiwa sang raja.

 

Dalam kitab Pararaton, disebutkan bahwa Jayanegara meninggal pada tahun 1328 M dan untuk mengenang jasanya, dibangun tempat suci di dalam kawasan kedaton. Selain itu, dibuat pula arca Wisnu yang ditempatkan di Shila Petak dan Bubat, serta arca Amoghasiddhi yang ditempatkan di daerah Sukalila, menunjukkan adanya penghormatan spiritual terhadap sang raja melalui representasi dewa-dewa dalam agama Hindu-Buddha yang dianut pada masa itu.

 

Sejak pertama kali didirikan, Candi Bajang Ratu belum pernah mengalami pemugaran besar-besaran, kecuali beberapa upaya pemeliharaan bersifat darurat yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tahun 1915. Baru pada tahun 1989, pemerintah Indonesia secara resmi memulai proses pemugaran candi, dan proyek ini berhasil diselesaikan pada tahun 1992. Kini, Candi Bajang Ratu berdiri sebagai salah satu simbol penting warisan budaya Majapahit yang terus dijaga dan dilestarikan.Mitos Candi Bajang Ratu

 

Mitos Candi Bajang Ratu

Berbagai mitos dan cerita rakyat masih melekat kuat di kalangan masyarakat sekitar Candi Bajang Ratu hingga saat ini.

Salah satu kepercayaan yang paling dikenal adalah larangan untuk berjalan melintasi bagian tengah candi tepat dari arah depan menuju belakang.

Konon, jalur lurus ini dianggap sakral dan tidak boleh dilalui sembarangan, terutama oleh orang yang memegang jabatan penting.

Warga sekitar percaya bahwa melanggar pantangan tersebut bisa membawa dampak buruk, seperti tergeser dari jabatan atau bahkan kehilangan posisi yang tengah diemban. Karena itulah, para pejabat atau pengunjung penting yang datang biasanya diarahkan untuk berjalan memutar lewat sisi kiri atau kanan bangunan.

 

Cerita menarik yang memperkuat mitos ini melibatkan tokoh sejarah, Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Letnan Gubernur Inggris di Pulau Jawa pada tahun 1811.

Saat melakukan kunjungan ke Trowulan, Raffles melewati pintu utama Candi Bajang Ratu dan berjalan ke bagian belakangnya, tanpa mengikuti larangan yang diyakini oleh masyarakat setempat. Meski telah diperingatkan, ia tetap melanggar pantangan tersebut.

 

Tak lama setelah kunjungan itu, Raffles menerima surat mutasi dari pemerintah kolonial Inggris di India dan dipindahkan ke Bengkulu.

Masa jabatannya di Jawa pun hanya berlangsung singkat, yakni dua tahun. Kejadian ini semakin menguatkan keyakinan masyarakat akan kekuatan gaib yang mengelilingi Candi Bajang Ratu, dan menjadikan mitos tersebut tetap hidup dari generasi ke generasi.

 

 

Juru kunci Candi Bajang Ratu, menjelaskan bahwa gapura ini lebih dari sekedar peninggalan sejarah, namun juga memiliki makna spiritual yang mendalam.

“Gapura ini mengandung banyak pesan dan nilai-nilai leluhur yang harus dihormati. Masyarakat sekitar percaya bahwa gapura ini memiliki energi yang melindungi kami dari hal-hal buruk,” terangnya

 

“Sebagai penjaga, saya memastikan candi ini tetap terawat dan menjaga tradisi leluhur tetap hidup,” tambahnya. BILLA

 

Editor : Imron Arlado
#Makna simbolis #Raja Jayanegara #mitos candi bajang ratu #bangunan candi #nilai sejarah #candi bajang ratu #situs bersejarah #sri tanjung #sejarah candi #kerajaan majapahit #tempat suci