RADAR MAJAPAHIT – Dibawah kepemiminan Raja Hayam Wuruk, Majapahit dikenal makmur mencapai puncak kejayaannya.
Meski, kala itu Wilwatikta juga diterpa pemberontakan internal dari berbagai sisi.
Sebagaimana diketahui, Raja Hayam Wuruk dikenal sebagai sosok penguasa yang sederhana (rajakumara).
Menurut ramalan Wisnuwarddhani atau yang juga dikenal sebagai Tribhuwana Tunggadewi Jayawismuwarddhani, Dyah Hayam Wuruk dianggap sebagai penguasa di Jiwana (jiwanarajnapratistita dyah Hayam Wuruk bathara sri rajasanagara).
Pada tahun 1350, Hayam Wuruk dinobatkan sebagai raja Majapahit dengan nama Sri Rajasanagara.
Hingga pemerintahannya berakhir karena meingggal pada tahun 1389, Majapahit mencapai puncak kebesarannya.
Hal ini tidak lepas dari peran Mahapatih Gadjah Mada sebagai Patih Hamangkubhumi.
Selama menakhodai Majapahit, Hayam Wuruk cukup agresif dalam hal memberlakukan kebijakan nasional.
Salah satunya, kerajaan tidak menerima sumbangan apapun dari rakyat. Penguasa kala itu hanya fokus pada perubahan sistem politik dan menegakkan keadilan sosial.
Upeti dan pajak diperoleh dari kerajaan di bawahnya yang tersebar di se-Nusantara.
Kejayaan Majapahit berbanding lurus dengan potensi alam, sumberdaya manusia, hingga kekuatan armada perang yang dimiliki.
Ajaran agama Hindu pun kala itu sangat kuat mewarnai kehidupan seluruh lapisan masyarakatnya.
Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dan Gadjah Mada setiap provinsi di Indonesia hingga jazirah Malaka memajang lambang-lambang Majapahit.
Sebagaimana wilayah yang tercantum dalam Sumpah Palapa. Yang meliputi Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura), dan sebagian besar Filipina.
Negara yang berada di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk ini memiliki hubungan dengan Campa (Thailand), Kamboja, Siam, wilayah selatan Burma, Vietnam, dan Tiongkok.
Kongsi dagang jalur laut Majapahit kian tangguh di bawah panglima armada lautnya, Mpu Nala, yang mampu menciptakan stabilitas di wilayahnya. (WIDYA)
Editor : Martda Vadetya