Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sraddha, Simbol Harmoni Majapahit antara Dunia Manusia dan Roh

I
Penulis: Imron Arlado❯

Upacara Sraddha
Upacara Sraddha


Advertisement

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Kerajaan Majapahit terkenal tidak hanya karena keberhasilan politik dan militernya, namun juga untuk kehidupan spiritual serta budayanya yang sangat kaya.

Salah satu tradisi keagamaan paling unik dari masa itu adalah upacara Sraddha, sebuah ritual besar untuk menghormati arwah leluhur, yang memperlihatkan kedalaman filosofi dan spiritualitas masyarakat Majapahit.

Secara umum, Sraddha diartikan sebagai keyakinan atau pengabdian yang tulus.  Bagi masyarakat Majapahit, ritual ini bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga sarana menjaga keseimbangan antara dunia roh dan dunia manusia. 

Advertisement

Melalui pelaksanaan Sraddha, para pemimpin berharap roh nenek moyang mendapatkan tempat yang semestinya di kehidupan setelah mati, sekaligus memberikan berkah bagi keluarga yang masih hidup. 

Upacara Sraddha tidak dilakukan sembarangan. Biasanya, upacara ini dilaksanakan dua belas tahun setelah seseorang yang dianggap berprestasi besar atau memiliki kedudukan tinggi meninggal dunia.

 

 

Prosesi berlangsung di lingkungan istana, dengan tata upacara yang rumit dan simbolik.

Tempat pelaksanaan upacara didekorasi dengan bunga, dupa, patung dewa, dan sajian dari hasil pertanian.

Para pendeta Hindu dan biksu Buddha sering memimpin doa bersama, mencerminkan kerukunan dua kepercayaan besar di Majapahit. 

Upacara Sraddha biasanya dimulai dengan pembersihan simbolis, baik untuk tempat maupun benda-benda persembahan, sebagai simbol penyucian jiwa.

Kemudian dilakukan pembakaran dupa dan persembahan makanan untuk roh leluhur. Hewan seperti sapi atau burung kadang-kadang dijadikan simbol untuk mengantar arwah menuju kehidupan setelah mati.

  

Prosesi puncaknya adalah pembacaan mantra dan doa pemujaan yang diyakini membuka jalan roh menuju kebahagiaan abadi.

Tradisi Sraddha meninggalkan pengaruh yang masih dapat dirasakan dalam budaya Jawa masa kini.

Bentuk yang paling dikenal sekarang adalah tradisi Nyadran, yakni ritual bersih kubur dan doa bersama menjelang Ramadan di berbagai daerah Jawa, terutama di wilayah bekas pusat Majapahit seperti Mojokerto dan Blitar. 

Meskipun telah disesuaikan dengan nilai-nilai Islam, inti dari penghormatan kepada nenek moyang dan rasa syukur atas kehidupan tetap sama seperti di zaman Sraddha dahulu.

Upacara Sraddha di Kerajaan Majapahit bukan sekadar ritual kematian, tetapi sebuah ekspresi filosofi hidup, penghormatan kepada leluhur, pengakuan atas kesinambungan waktu, dan upaya menjaga harmoni antara dunia fana dan rohani. 

 

 

Melalui Sraddha, Majapahit menunjukkan kedalaman budaya yang melampaui dominasi politik, yaitu sebuah peradaban yang memahami bahwa kekuatan sejati terletak pada penghormatan kepada asal-usulnya. (Tri Yulia Setyoningrum/Devi)

Advertisement

Artikel Terkait

Pemugaran Situs Tribuana Tunggadewi di Mojokerto Sentuh Pagar Kuno

Pemugaran Situs Tribuana Tunggadewi di Mojokerto Sentuh Pagar Kuno

Upaya pelestarian peninggalan Kerajaan Majapahit terus dilakukan di kompleks Situs Bhre Kahuripan atau Situs Tribuana Tunggadewi.

Menggali Ilmu dari Pesona Candi Bajang Ratu

Menggali Ilmu dari Pesona Candi Bajang Ratu

Pesona Candi atau Gapura Bajang Ratu di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto masih menjadi perhatian kalangan wisatawan.

Kendi Era Majapahit Jadi Perlambang Sumber Kehidupan

Kendi Era Majapahit Jadi Perlambang Sumber Kehidupan

Kendi di era Kerajaan Majapahit lebih dari sekadar wadah air minum, kendi menjadi bagian yang tak terpisah dari nilai spiritualitas

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer