Makam Bejagung Lor Tuban, Jejak Sunan Bejagung dan Akulturasi Islam-Jawa

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 14:08 WIB
SITUS RELIGI: Salah satu gapura di kompleks Makam Bejagung Lor di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. (Sumber: BPK Wilayah Jatim)
SITUS RELIGI: Salah satu gapura di kompleks Makam Bejagung Lor di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. (Sumber: BPK Wilayah Jatim)

RADAR MAJAPAHIT — Di balik julukan Tuban sebagai Kota Wali, terdapat sejumlah situs yang menyimpan jejak perkembangan Islam sekaligus pertemuan budaya Jawa. Salah satunya Situs Makam Bejagung Lor di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban.

Dilansir dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Jawa Timur, Kementerian Kebudayaan RI, situs tersebut merupakan kompleks makam tokoh penyebar Islam di tanah Jawa, Sunan Bejagung atau Syekh Abdullah Asy'ari.

Dalam silsilah Walisongo, Sunan Bejagung disebut sebagai paman Sunan Ampel. Jejak keberadaannya di Bejagung Lor kemudian berkembang menjadi salah satu tujuan ziarah religi masyarakat hingga sekarang.
Nama Bejagung sendiri memiliki kisah tersendiri. Menurut BPK Jatim, penamaan wilayah tersebut berkaitan dengan legenda air yang berada dalam wadah buah maja.

Terdiri Tujuh Halaman

Kompleks Makam Bejagung Lor memiliki karakter arsitektur yang khas. Situs menghadap ke arah timur, ditandai dengan keberadaan gapura pertama di bagian paling timur kompleks.

Secara keseluruhan, kompleks tersebut terdiri atas tujuh halaman yang masing-masing dipisahkan oleh gapura.

Pusat kompleks berada di halaman ketujuh. Di bagian tersebut terdapat makam utama Sunan Bejagung Lor yang ditandai gapura paduraksa berbahan kayu jati.

Pada ambang atas pintu gapura terdapat inskripsi menggunakan huruf Jawa Baru. Tulisan tersebut berbunyi "kang hamurwa lawing pu krayatingi”, yang diartikan sebagai “yang memulai (membuat) pintu.”

Keberadaan inskripsi tersebut menjadi salah satu bagian penting dari jejak sejarah yang tersimpan di kompleks makam.

 

BERNILAI SEJARAH: Bangunan beratap tradisional berbentuk limas yang dikenal sebagai Balai Penadaran I dan II di kompleks Makam.
BERNILAI SEJARAH: Bangunan beratap tradisional berbentuk limas yang dikenal sebagai Balai Penadaran I dan II di kompleks Makam Bejagung Lor, Tuban.
Selain makam utama, kompleks Makam Bejagung Lor juga memiliki dua bangunan beratap tradisional berbentuk limas yang dikenal sebagai Balai Penadaran I dan II.

Pada kerangka atap atau blandar Balai Penadaran I ditemukan tulisan berhuruf Jawa. Tulisan tersebut berbunyi "sarira nembah pandita ratu” yang berarti "badan menyembah pendeta raja".

Tulisan tersebut merupakan sengkalan yang menunjukkan angka tahun 1728 Saka atau 1801 Masehi.

Jejak lain berada di luar kompleks. Di sebelah barat halaman kelima terdapat makam kuno yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Makam Sunan Mruwut.

Sumur Giling Jadi Tujuan Peziarah
Selain bangunan dan makam kuno, salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi ziarah di Bejagung Lor adalah Sumur Giling, yang juga dikenal sebagai sumur peninggalan Sunan Bejagung.

Sumur kuno tersebut menjadi salah satu tujuan yang banyak didatangi peziarah. BPK Jatim mencatat, masyarakat yang berkunjung ke Makam Bejagung Lor biasanya menyempatkan diri membasuh muka atau meminum air dari Sumur Giling.

Air sumur tersebut dipercaya masyarakat memiliki berkah untuk kesehatan dan tolak bala.

Keberadaan makam, gapura, inskripsi, bangunan tradisional, serta tradisi Sumur Giling membuat Situs Makam Bejagung Lor tidak hanya menjadi tempat ziarah.

Kompleks tersebut juga menjadi salah satu jejak pertemuan tradisi Islam dan budaya Jawa dalam perkembangan sejarah masyarakat Tuban.

Situs Makam Bejagung Lor hingga kini menjadi bagian dari warisan budaya yang memperlihatkan bagaimana nilai keagamaan, tradisi masyarakat, dan tinggalan arsitektur bersejarah terus hidup berdampingan. (*/ram)

Editor : Rizal Amrulloh
Sumber : BPK Wilayah Jatim
Kota Wali BPK Wilayah Jatim tuban