Kemenbud Buka FMTI 2026, Sangitaloka Angkat Musik Bambu dan Bunyi Ritus

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 15:00 WIB
FESTIVAL: Menbud Fadli Zon saat membuka Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026 - Sangitaloka di Kabupaten Bogor, Sabtu (3/10). (Foto: Kemenbud)
FESTIVAL: Menbud Fadli Zon saat membuka Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026 - Sangitaloka di Kabupaten Bogor, Sabtu (3/10). (Foto: Kemenbud RI)

RADAR MAJAPAHIT — Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI membuka rangkaian Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026 - Sangitaloka di Kabupaten Bogor, Sabtu (3/10). Melalui FMTI, mengangkat tema 'Bambu dan Bunyi Ritus', festival tersebut menjadi ruang perjumpaan antara musik tradisi, seniman, komunitas, pengetahuan, dan masyarakat.
Sangitaloka menjadi pembuka rangkaian FMTI 2026 yang akan digelar di sepuluh kabupaten/kota di Indonesia. Kegiatan ini diselenggarakan Kemenbud melalui Direktorat Film, Musik, dan Seni bersama komunitas lokal dan Pemerintah Kabupaten Bogor.

Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengatakan, FMTI 2026 akan hadir di sejumlah daerah dengan kekayaan musik tradisi masing-masing. Kabupaten Bogor dipilih sebagai lokasi pembuka bertajuk 'Merajut Bayang-Bayang Musik Nusantara'.

"Kita harus hadir di berbagai lokus, tempat, yang sekarang ini memiliki banyak persaingan dengan berbagai genre musik yang ada di Indonesia dan di dunia. Merajut bayang-bayang berarti juga mempertemukannya, menenun menjadi satu kain yang dapat kita lihat dan rawat bersama,” ungkap Fadli Zon.


Menurutnya, kekayaan musik tradisi Indonesia tumbuh dari ekosistem kesenian yang kuat dan bertahan karena dijaga oleh masyarakatnya.

"Ada Didong di Dataran Tinggi Gayo, Dol di Bengkulu, Talempong di Tanah Datar, Gendang Beleq di Lombok, Bundengan di Wonosobo, Angklung Gubrag di Bogor. Dan semua lahir dari ekosistem kesenian yang kuat dan bertahan karena dijaga oleh masyarakatnya sendiri,” jelasnya.

Bambu dan Bunyi Ritus

Dalam FMTI Bogor, perhatian diarahkan pada musik berbahan bambu yang memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat Sunda. Bambu tidak hanya dipandang sebagai bahan alat musik, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial, lingkungan, simbol budaya hingga praktik ritual masyarakat.
"Bunyi yang lahir dari bambu membawa cerita tentang hubungan manusia dengan alam dan kebudayaannya. Musik adalah jiwa budaya dan suara zaman denyut nadi kehidupan bangsa,” ucap Fadli Zon.

Menbud mengatakan Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Dalam ekosistem seni yang dikembangkan Kemenbud, musik menjadi salah satu bidang yang mencakup musik tradisi, klasik, hingga kontemporer.

Setidaknya terdapat lebih dari 1.000 jenis musik tradisional yang tersebar di berbagai daerah. "Jadi ini yang harus kita jaga bersama. Bukan hanya kita jaga dan lindungi, lebih dari itu, harus kita kembangkan dengan kreasi-kreasi baru, inovasi-inovasi baru. Dan kemudian kita manfaatkan menjadi ekonomi budaya, menjadi industri budaya, supaya apa yang menjadi modal budaya kita itu, menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi ekonomi masyarakat pelakunya,” tegas Fadli Zon.

 

Sepuluh Daerah Jadi Lokasi FMTI

FMTI merupakan program tahunan Kementerian Kebudayaan yang telah berlangsung sejak 2021. Pada rangkaian 2026, festival dijadwalkan hadir di Wonosobo, Maumere, Makassar, Kuningan, Aceh, Mataram, Pontianak, Bengkulu, hingga Batusangkar.

Di Kabupaten Bogor, festival menggunakan nama Sangitaloka. Nama tersebut berasal dari kata saṅgīta yang berarti musik atau seni pertunjukan dan loka yang berarti ruang atau dunia.

Sangitaloka dimaknai sebagai ruang pertemuan antara tradisi, pengetahuan, masyarakat, dan ekspresi artistik dalam satu ekosistem kebudayaan.

Asisten PIC Lokal Deden Fahmi Fadilah mengatakan Bogor menjadi pembuka rangkaian FMTI 2026-2027. "Dengan nama Sangitaloka dan mengusung tema Bambu dan Bunyi Ritus diharapkan dapat menjadi ruang pelestarian, ruang apresiasi, serta ruang kreasi yang bermakna dan berkelanjutan bagi insan-insan musik tradisi di Kabupaten Bogor dan Jawa Barat pada umumnya,” ucap Deden.

Sangitaloka menghadirkan sejumlah kelompok dan seniman yang merepresentasikan keberagaman musik tradisi Bogor dan sekitarnya. Di antaranya Jagat Layung, Kalingga, Gamelan Cibatokan, Angklung Gubrag Dogdog Lojor, Bilik Jasinga, Gamelan Ajeng, dan Bajidoran.
Festival juga menghadirkan Rita Tila sebagai bintang tamu. Pertunjukan dirancang tetap berakar pada tradisi, namun terbuka terhadap tafsir artistik baru yang lebih komunikatif bagi masyarakat masa kini.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Kementerian Kebudayaan juga memberikan apresiasi kepada sejumlah insan musik.
Kategori Penggerak Ekosistem Musik Tradisi diberikan kepada Aki Jatnika dan Endo Suanda. Kategori Penjaga Musik Nusantara diberikan kepada Ariyansyah atau Ki Jawer.

Sementara kategori Penggerak Tata Kelola FMTI diberikan kepada Lawe Samagaha.
Sangitaloka tidak hanya diarahkan sebagai panggung pertunjukan. Festival tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan bunyi, pengetahuan, komunitas, dan ingatan budaya.

Kegiatan itu diharapkan memperkuat posisi Kabupaten Bogor dalam narasi keberlanjutan musik tradisi, khususnya musik berbasis bambu.

Kemenbud juga menempatkan FMTI sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem musik tradisi melalui pembinaan talenta, pengarsipan dan dokumentasi, residensi musik, serta penciptaan ruang kolaborasi lintas generasi.

Melalui Manajemen Talenta Nasional, pengembangan musik diarahkan mulai dari pembibitan, pengenalan, peningkatan kemampuan hingga rekognisi internasional.
Dengan demikian, musik tradisi tidak hanya diposisikan sebagai kesenian yang dipentaskan, tetapi juga sebagai pengetahuan dan warisan budaya yang terus dipahami, dikembangkan, serta dijaga keberlangsungannya di tengah perubahan zaman. (*/ram)

Editor : Rizal Amrulloh
Sumber : Kemenbud RI
Kemenbud RI Festival Musik Tradisi fadli zon