Rumah Bing Slamet Resmi Jadi Museum, Rekam Jejak Sang Maestro Seni Indonesia

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 08:00 WIB
TAPAK TILAS: Menbud RI Fadli Zon melihat koleksi yang menjadi memorabilia sang maestro seni di Museum Bing Slamet, Minggu (27/9). (Foto: Kemenbud RI/Agung Panji)
TAPAK TILAS: Menbud RI Fadli Zon melihat koleksi yang menjadi memorabilia sang maestro seni di Museum Bing Slamet, Minggu (27/9). (Foto: Kemenbud RI/Agung Panji)

RADAR MAJAPAHIT – Rumah peninggalan Bing Slamet di Jalan Arimbi Nomor 7, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, kini resmi menjadi museum. Menteri Kebudayaan (Menbud) RI Fadli Zon meresmikan Museum Bing Slamet bertepatan dengan Hari Komedi Nasional sekaligus hari kelahiran maestro seni tersebut, 27 September 1927.

Museum ini menjadi ruang untuk mengenang perjalanan Bing Slamet yang dikenal melalui dunia musik, lawak, dan film. Kiprahnya juga tidak terlepas dari perjuangan kemerdekaan serta perkembangan kebudayaan Indonesia.

Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI melalui Direktorat Sejarah dan Permuseuman memanfaatkan rumah peninggalan Bing Slamet sebagai bangunan museum. Arsitektur dan sejumlah ruang asli rumah dipertahankan melalui renovasi ringan untuk menjaga nilai historisnya.

Fadli Zon mengatakan, rumah tersebut memiliki arti penting karena pada masa kejayaan Bing Slamet menjadi tempat berkumpulnya para seniman dan budayawan.

"Rumah ini adalah tempat perjumpaan. Di rumah ini saya dengar juga karena saya pernah menulis buku tentang Idris Sardi, dan juga saya mendengar cerita-cerita dari para seniman budayawan adalah tempat bertemu, perjumpaan, dialog, diskusi dari para seniman budayawan di zaman itu khususnya di tahun-tahun 50-an, 60-an, dan 70-an,” ungkap Menbud.


Delapan Area Jadi Tapak Tilas Perjalanan Bing Slamet

Museum Bing Slamet menghadirkan delapan area yang menggambarkan perjalanan hidup sang maestro. Narasi tersebut mencakup masa kecil, musik, lawak, film, memori keluarga, jejaring seniman, perjuangan kemerdekaan, hingga ruang apresiasi masyarakat.

Berbagai koleksi ditampilkan untuk mendukung narasi tersebut. Di antaranya gitar, piringan hitam, piagam penghargaan, foto keluarga, surat pribadi, pakaian, serta berbagai memorabilia milik Bing Slamet.

Sejumlah ruang autentik rumah juga tetap dipertahankan. Keberadaan ruang asli tersebut memberikan konteks terhadap perjalanan hidup dan aktivitas Bing Slamet bersama keluarga maupun para seniman pada masanya.

Museum juga menggunakan sejumlah media interaktif untuk mendekatkan sejarah kepada pengunjung, terutama generasi muda. Fasilitas tersebut antara lain radio lama, headphone bergaya vintage, AI photo booth, dubbing suara, hingga peta digital Jakarta tempo dulu.

Pendekatan tersebut membuat pengalaman museum tidak hanya mengandalkan benda koleksi, tetapi juga mengajak pengunjung berinteraksi dengan narasi yang disajikan.

Dari Rumah Tinggal Menjadi Ruang Budaya

Direktur Jenderal Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Restu Gunawan mengatakan, kehadiran Museum Bing Slamet merupakan bagian dari upaya Kementerian Kebudayaan menghadirkan museum sebagai ruang publik yang relevan dan edukatif.

"Kementerian Kebudayaan pada tahun 2026 melakukan revitalisasi terhadap sekitar 200 museum dan cagar budaya secara bertahap. Museum Bing Slamet menjadi salah satu museum yang ditata dan diselesaikan pada tahun ini setelah sebelumnya dimulai pembangunannya saat penetapan Hari Komedi Nasional pada tahun 2025,” paparnya.

Bagi keluarga, rumah tersebut bukan sekadar tempat tinggal. Adi Bing Slamet yang mewakili keluarga mengatakan, rumah itu pada era keemasan Bing Slamet menjadi markas kreatif sekaligus tempat berkumpul para maestro dan seniman dari berbagai generasi.

"Mengubah kediaman ini menjadi museum, kami merasa kehangatan dan semangat itu dihidupkan kembali. Rumah ini dibuka kembali untuk publik, bukan hanya sebagai tempat mengenang Bing Slamet, tetapi sebagai tempat merayakan sejarah kebersamaan para insan seniman Indonesia,” ucap Adi.

Menbud berharap Museum Bing Slamet dapat berkembang menjadi salah satu kantong atau enklaf budaya di tengah masyarakat Johar Baru. Dukungan masyarakat sekitar dinilai penting agar museum tidak berhenti sebagai tempat penyimpanan koleksi.

"Yang paling penting masyarakat yang ada di sini mendukung supaya museum ini menjadi salah satu pusat budaya dan juga menjadi tempat untuk belajar, untuk mengapresiasi, mengenang, dan juga memberikan inspirasi agar nanti lahir seniman dan budayawan seperti Bing Slamet di masa mendatang,” sambung Fadli Zon.

Selain ruang pamer, Museum Bing Slamet juga menyediakan ruang pertunjukan dan apresiasi yang dapat digunakan untuk kegiatan seni dan budaya.

Dengan konsep tersebut, museum diarahkan menjadi ruang kebudayaan yang terus hidup. Sejarah Bing Slamet tidak hanya disimpan sebagai kenangan masa lalu, tetapi diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran dan sumber inspirasi bagi masyarakat serta generasi seniman berikutnya. (*/ram)

Editor : Rizal Amrulloh
Sumber : Kemenbud RI
Kemenbud RI Bing Slamet fadli zon