Mengintip Wajah Baru Museum MINHA Jelang Muktamar ke-35 NU di Jombang

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 22:08 WIB
PELESTARIAN WARISAN BUDAYA: Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari (MINHA) setelah direvitalisasi. (Foto: Museum dan Cagar Budaya Kemenbud RI)
PELESTARIAN WARISAN BUDAYA: Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari (MINHA) setelah direvitalisasi. (Foto: Museum dan Cagar Budaya Kemenbud RI)

RADAR MAJAPAHIT - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur pada 27-31 Agustus 2026 tak hanya menjadi perhelatan akbar bagi nahdiyin. Momentum tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk menyusuri berbagai destinasi wisata religi dan sejarah di Kota Santri. 

Salah satunya yang wajib dikunjungi Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari atau yang dikenal sebagai MINHA. Berlokasi di kawasan Makam Presiden ke-4 Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, di Desa Cukir, Kecamatan Diwek, museum ini memiliki baru wajah baru setelah direvitalisasi awal tahun ini.

Sebagai salah satu museum yang dikelola oleh Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan (Kemenbud RI), MINHA tak sekadar sebagai ruang pelestarian warisan budaya, tetapi juga menjadi pusat edukasi sejarah Islam Indonesia. "Melalui revitalisasi ini, MINHA menghadirkan wajah baru yang lebih segar, informatif, dan kontekstual, dengan penataan ruang pamer, alur kunjungan, serta penyajian narasi yang disusun secara lebih sistematis dan komunikatif," tulis Museum dan Cagar Budaya melalui laman resminya.

Selain sebagai pusat ilmu pengetahuan untuk mengajarkan nilai-nilai Islam, MINHA juga mengajarkan tentang toleransi terhadap keberagaman budaya, serta keteladanan ulama nasional sekaligus tokoh pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari.

Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Esti Nurjadin menyampaikan, MINHA kini menghadirkan revitalisasi tata pamer yang memperkaya pengalaman pengunjung dalam menelusuri perjalanan sejarah Islam di Indonesia. Revitalisasi mencakup lantai I dan lantai II, dengan penambahan ruang, zona tematik, serta penguatan narasi sejarah yang lebih komprehensif.

"Melalui pembukaan kembali MINHA, kami berharap sajian informasi koleksi mengenai bukti peradaban Islam di Indonesia. Mulai dari awal masuknya Islam hingga masa Indonesia merdeka dapat tersampaikan secara lebih utuh. Kehadiran wajah baru MINHA diharapkan tidak hanya melengkapi fungsi museum sebagai ruang penyimpanan koleksi, tetapi juga sebagai ruang dialog budaya, pembelajaran publik, serta rumah belajar sejarah peradaban Islam yang berperan dalam penguatan identitas bangsa yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Indira. (*/ram)

Editor : Rizal Amrulloh
Sumber : Museum dan Cagar Budaya Kemenbud RI
Kemenbud RI Museum dan Cagar Budaya Muktamar NU