MINHA Jombang, Museum yang Mengajarkan Toleransi Islam Nusantara

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 13:00 WIB
JEJAK PERADABAN: Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy
JEJAK PERADABAN: Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ari atau MINHA Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. (Foto: Museum dan Cagar Budaya Kemenbud RI)

RADAR MAJAPAHIT - Berada di dalam kawasan Pondok Pesantren Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terdapat Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ari atau yang dikenal dengan MINHA.

Museum dan Cagar Budaya (MCB) Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI dalam keterangannya menjelaskan, museum ini didirikan sebagai pusat ilmu dan pengetahuan Islam di Indonesia. Fokus utamanya adalah menanamkan nilai toleransi terhadap keberagaman budaya Nusantara.

Koleksi yang dipamerkan MINHA mencakup tiga era penting dalam sejarah Islam di Indonesia. Mulai dari masuknya Islam ke Nusantara, masa perjuangan kemerdekaan, hingga pemikiran para tokoh Islam.

Dua nama besar yang diangkat dalam museum ini adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy'ari, dan Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Pengunjung bisa melihat langsung koleksi masterpiece seperti Jubah Mbah Hasyim dan naskah-naskah kitab kuno. Benda-benda tersebut menjadi penghubung antara masa lalu dan nilai keislaman yang hidup saat ini.

MINHA juga tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan artefak. Museum ini dirancang untuk memberikan pengalaman partisipatoris. 

"Melalui koleksi masterpiece seperti Jubah Mbah Hasyim dan naskah kitab kuno, museum ini menawarkan pengalaman partisipatoris bagi pengunjung, komunitas, organisasi, dan tokoh-tokoh Islam di Indonesia, merepresentasikan toleransi dari keberagaman dengan bersama-sama melibatkan berbagai pihak untuk memelihara warisan Keislaman Nusantara yang kaya dan beragam," tulis MCB Kemendikbud RI di laman resminya.

Dengan pendekatan itu, MINHA ingin menjadi ruang belajar bersama. Bukan hanya untuk santri dan akademisi, tetapi juga untuk masyarakat umum yang ingin mengenal Islam Nusantara yang ramah dan moderat.

Keberadaan museum di lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng ini diharapkan bisa memperkuat pemahaman bahwa Islam di Indonesia tumbuh berdampingan dengan budaya lokal, tanpa menghilangkan jati diri bangsa. (*/ram)

Editor : Rizal Amrulloh
Sumber : Museum dan Cagar Budaya Kemenbud RI
Kemenbud RI Museum dan Cagar Budaya Islam Nusantara KH Hasyim Asy'ari