JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Kerajaan Majapahit dikenang sebagai salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara.
Masa keemasannya berlangsung di bawah pemerintahan Sri Rajasanagara Hayam Wuruk, raja keempat Majapahit, yang memerintah dari tahun 1350 hingga 1389.
Dalam kurun hampir empat dekade, Hayam Wuruk berhasil membawa Majapahit mencapai puncak kejayaannya, menciptakan stabilitas politik, kemajuan ekonomi, serta kejayaan budaya dan sastra yang tidak tertandingi pada zamannya.
Kejayaan tersebut tentu tidak muncul begitu saja. Hayam Wuruk menerapkan sejumlah strategi kepemimpinan yang cerdas, terukur, dan berorientasi jangka panjang.
Hayam Wuruk lahir pada tahun 1334 sebagai putra dari Ratu Tribhuwana Tunggadewi dan Sri Kertawardhana. Ia mewarisi garis keturunan langsung dari pendiri Majapahit, Raden Wijaya.
Sebelum naik takhta, kerajaan telah dipimpin oleh ibunya dengan dukungan Mahapatih Gajah Mada tokoh militer dan politik yang kelak menjadi mitra strategis dalam pemerintahannya.
Hayam Wuruk dinobatkan sebagai raja pada usia muda, 16 tahun, tetapi ia menunjukkan kebijaksanaan dan kemampuan administratif yang luar biasa.
Berbekal pendidikan tinggi khas bangsawan Majapahit dan bimbingan tokoh-tokoh penting seperti Gajah Mada dan Mpu Prapanca, ia memimpin Majapahit dengan tujuan yang besar.
Salah satu langkah terpenting Hayam Wuruk adalah membangun hubungan erat dan saling percaya dengan Mahapatih Gajah Mada, seorang tokoh legendaris yang telah berikrar melalui Sumpah Palapa untuk menyatukan seluruh Nusantara di bawah Majapahit.
Alih-alih merasa terancam oleh kekuatan Mahapatih, Hayam Wuruk justru merangkulnya sebagai mitra strategis.
Ia memberikan kepercayaan luas kepada Gajah Mada untuk menangani urusan militer, diplomasi, dan perluasan wilayah.
Hayam Wuruk berkonsentrasi pada stabilitas internal, hukum, budaya, dan simbolisme kekuasaan.
Hayam Wuruk menyadari pentingnya struktur pemerintahan yang terorganisir agar Majapahit mampu mengelola wilayah yang luas.
Ia menyusun sistem administrasi dengan pembagian wilayah-wilayah seperti Mandala, Negara Agung, dan Wilayah Mancanegara, masing-masing dengan penguasa lokal yang tunduk kepada raja.
Majapahit juga memiliki struktur pejabat yang jelas, seperti Rakryan Mantri, Rakryan Kanuruhan, dan Rakryan Demung, yang masing-masing bertugas mengelola bidang administrasi, hukum, dan urusan dalam negeri.
Ia juga aktif melakukan Dharmayatra, yaitu perjalanan keliling kerajaan untuk memantau langsung kondisi rakyat dan memastikan semua wilayah menjalankan pemerintah pusat dengan baik.
Majapahit di bawah Hayam Wuruk berhasil menjalin kendali atas hampir seluruh wilayah Nusantara, termasuk sebagian besar wilayah Kalimantan, Sumatra, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga semenanjung Malaya.
Strategi yang digunakan tidak melulu militer, melainkan gabungan antara ekspedisi militer, pernikahan politik, dan hubungan diplomatik. Contoh nyatanya adalah:
- Pernikahan Hayam Wuruk dengan Citra Rashmi, putri kerajaan Dharmasraya (Sumatra), mempererat pengaruh politik di barat Nusantara.
- Mengakui kerajaan-kerajaan kecil sebagai wilayah bawahan, bukan sekadar jajahan, sehingga mereka tetap memiliki otonomi terbatas.
Kepemimpinan Hayam Wuruk juga ditandai dengan dukungan terhadap perkembangan budaya dan sastra.
Ia menaungi banyak pujangga dan sastrawan seperti Mpu Prapanca (penulis Negarakertagama) dan Mpu Tantular (penulis Sutasoma, tempat lahirnya semboyan Bhinneka Tunggal Ika).
Selain itu, masa pemerintahannya dikenal sebagai masa toleransi beragama. Penganut Hindu-Siwa dan Buddha hidup berdampingan dalam kedamaian, bahkan sering menyembah di tempat yang sama.
Dukungan terhadap berbagai kepercayaan ini menjadikan Majapahit sebagai kerajaan inklusif dan harmonis.
Hayam Wuruk memahami pentingnya simbol dan legitimasi. Ia menempatkan diri sebagai raja-dewa dalam tradisi Hindu-Jawa, tetapi tetap tampil sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat.
Ia juga menjaga keseimbangan antara kekuasaan pusat dan daerah, antara bangsawan dan rakyat biasa, antara kekuatan agama dan kekuasaan kerajaan.
Hal ini menciptakan stabilitas jangka panjang yang mampu mempertahankan kejayaan Majapahit bahkan setelah masa Gajah Mada berakhir.
Hayam Wuruk wafat pada tahun 1389. Sepeninggalannya, Majapahit mengalami perlambatan dalam ekspansi dan perlahan memasuki masa kemunduran akibat konflik perebutan kekuasaan antara bangsawan dan keluarga kerajaan.
Namun warisan sistem pemerintahan, budaya, dan semangat persatuan yang ditinggalkannya bertahan lebih lama.
Kepemimpinannya dikenang sebagai puncak kejayaan Majapahit, dan menjadi inspirasi bagi semangat nasionalisme Indonesia di kemudian hari.
Hayam Wuruk adalah lebih dari sekadar raja besar. Ia adalah pemimpin visioner yang:
- Mampu bersinergi dengan tokoh kuat di sekelilingnya (seperti Gajah Mada),
- Membangun sistem pemerintahan yang stabil dan rapi,
- Menggabungkan ekspansi militer dan diplomasi secara seimbang,
- Menumbuhkan budaya dan toleransi, serta
- Membangun simbolisme kekuasaan yang kuat namun humanis.
Majapahit di bawah Hayam Wuruk menjadi gambaran ideal sebuah kerajaan besar Nusantara yang kuat, teratur, makmur, dan harmonis. (NIYA/FADYA)
Editor : Martda Vadetya