Nasirun dan Sketsa Megat Ruh: Ketika Seorang Pelukis Seolah Berpamitan

Sofan Kurniawan • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 12:03 WIB
MEGAT RUH: Sketsa Nasirun dua minggu sebelum hari wafatnya (format sketsa yang mulanya kotak diubah lanscape untuk menyesuaikan ruang unggahan digital)
MEGAT RUH: Sketsa Nasirun dua minggu sebelum hari wafatnya (format sketsa yang mulanya kotak diubah lanscape untuk menyesuaikan ruang unggahan digital)

Hingga 40 hari kematianya, perbincangan tentang Nasirun tiada hentinya. Dua minggu sebelum wafat, Nasirun membuat sketsa kecil: manusia bersayap dengan tulisan “Megat Ruh”.

Di bawahnya tertulis:

“Seindah-indahnya pepergian lebih indah PULANG. Konco2 padha arisan IDE.”

Sketsa itu diunggah Jumadil Alfi di laman Face Booknya, kawan dan adik kelas Nasirun semasa di ISI Yogyakarta. Setelah Nasirun wafat pada awal Agustus 2026, gambar tersebut terasa seperti catatan tentang perjalanan pulang.

Pada peringatan 40 hari Nasirun, 8 September 2026, banyak orang datang mengenangnya, termasuk Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan KH Mustofa Bisri. Sketsa kecil itu pun menemukan makna baru.

Megatruh dan Perjalanan Pulang

Dalam sastra Jawa, Megatruh adalah tembang Macapat yang menggambarkan saat ruh berpisah dari tubuh. Kata ini berasal dari megat—berpisah—dan ruh.

Dalam konsep Sangkan Paraning Dumadi, hidup adalah perjalanan dari asal menuju tujuan.

Rangkaian Macapat menggambarkan tahap-tahap kehidupan: Maskumambang, Mijil, Sinom, Kinanthi, Asmaradana, Gambuh, Dhandhanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, hingga Pucung.

Megatruh menandai perpisahan ruh dari jasad, sedangkan Pucung menggambarkan perjalanan kembali kepada asal dengan di pocong. (Dibungkus kain kafan)

Karena itu, kata “PULANG” dalam tulisan Nasirun terasa lebih dalam daripada sekadar perpisahan. Ia bukan hanya menulis kematian, melainkan perjalanan pulang.

MENJELANG KEMATIAN: Nasirun menunjukkan sketsa MEGAT RUH yang dibuatnya di Yogyakarta (Foto: Hanafi )
MENJELANG KEMATIAN: Nasirun menunjukkan sketsa MEGAT RUH yang dibuatnya di Yogyakarta (Foto: Hanafi )

Gambar Kecil yang Menjadi Besar

Nasirun dikenal lewat lukisan yang kaya simbol dan ingatan kebudayaan. Namun sketsa kecil menjelang kepergiannya kini terasa paling dekat dengan dirinya.

Tak ada yang tahu apakah ia sedang memikirkan kematian. Mungkin itu sekadar permainan gagasan. Namun setelah Nasirun pergi, sketsa tersebut dibaca ulang dengan makna berbeda.

Kalimat “Seindah-indahnya pepergian lebih indah PULANG” terasa berat, sementara “Konco2 padha arisan IDE” menunjukkan sisi Nasirun yang tetap akrab dan jenaka.

Bahkan di tengah kemungkinan perpisahan, ia masih mengajak kawan-kawannya berkumpul dalam dunia gagasan.

Pulang yang Tak Pernah Selesai

Empat puluh hari setelah kepergiannya, karya-karya Nasirun tetap hidup. Lukisan dan sketsanya masih menyimpan kemungkinan, sementara gagasannya terus berpindah dari satu kepala ke kepala lain.

Peringatan 40 hari menjadi ruang temu bagi sahabat, seniman, budayawan, pejabat, ulama, dan mereka yang pernah mengenalnya. Mereka membawa kenangan masing-masing tentang Nasirun.

Mungkin sketsa itu bukan tentang kematian, melainkan perjalanan: tentang ruh yang berpisah dari tubuh, seorang pelukis yang bercanda dengan hidup dan mati, serta satu kata yang ditulisnya dengan huruf besar:

PULANG.

Barangkali pesan Nasirun sederhana:

Jangan terlalu lama bersedih. Teruskan arisan ide. (Sofan Kurniawan/Radar Majapahit)

Editor : Sofan Kurniawan
Nasirun pelukis budaya seni yogyakarta