Ki Ageng Suryamentaram: Bahagia dengan Ilmu Kawruh Jiwa

Sofan Kurniawan • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 21:03 WIB
FILSUF NUSANTARA : Portet Ki Ageng Suryamentaram dalam olah desain digital (Sofanka/Radar Majapahit)
FILSUF NUSANTARA : Portet Ki Ageng Suryamentaram dalam olah desain digital (Sofanka/Radar Majapahit)

Oleh : JS.Wijanarko

Tidak banyak yang tahu bahwa di Indonesia pernah lahir seorang filsuf hebat bernama Ki Ageng Suryamentaram. Dia lahir pada 20 Mei 1892 di Yogyakarta, merupakan bangsawan, putra ke- 55 dari 79 anak Sri Sultan Hamengkubuwana VII (Achmad Sri W, 2020:12).

Meski tidak seterkenal Chairil Anwar di meja sekolah para siswa, tapi pemikiran dan karyanya tidak bisa dipandang sebelah mata. Suryamentaram bisa disebut sebagai filsuf nusantara dengan pemikiran yang hebat. Meski tidak sekolah seperti halnya saudara-saudaranya, namun Ki Ageng Suryamentaram mampu menguasai tiga bahasa, yakni bahasa Belanda, Inggris, dan Arab.

Setelah mengalami banyak pelajaran hidup, dari mulai di istana hingga masyarakat kecil, pada akhirnya Suryamentaram berhasil merumuskan ilmu bahagia yang disebut Kawruh Jiwa. Sebuah khazanah psikologis terkait dengan rasa. Konsep pengenalan diri mengenai jiwa dan segala sifat yang ada pada diri manusia. Goalnya adalah puncak tertinggi yakni kehidupan yang bahagia dan merdeka.

Ada 4 bab ajaran tentang Ilmu Kawruh Jiwa yang erat kaitannya dengan rasa, hasrat, dan kehendak manusia. Demikian kita bahasa secara singkat keempat bab tersebut.

1.     Bunga Susah

Konsep ini menjelaskan tentang kesadaran bahwa segala sesauatu yang ada di dunia tidak ada yang bisa membuat bahagia atau susah selamanya. Artinya, kebahagian dan kesusahan sejatinya tidak bergantung pada faktor eksternal di luar diri manusia. Keinginan yang terpenuhi tidak akan membuat manusia bahagia, namun hanya sebatas senang sementara. Sedangkan keinginan yang tidak terpenuhi juga hanya membuat manusia merasa sedih dan kecewa sementara.

Jika kita memiliki kesaradan tentang hal itu, maka kebahagiaan kita bisa langgeng tanpa bergantung pada kondisi dari luar. Sadar bahwa senang dan susah akan datang silih berganti.

2.     Raos Sami

Tidak jauh berbeda dengan konsep Bunga Susah, Raos Sami (rasa yang sama) juga membuka mata kita, bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki rasa yang sama. Misalnya, orang yang kaya juga merasakan sedih dan susah yang sama seprti halnya orang miskin.

 

3.     Raos Langgeng

Raos Langgeng atau rasa abadi ini merupakan kesadaran tentang adanya rasa di masa silam, sekarang, dan masa depan. Artinya, rasa sifatnya selalu sama secara masa. Tidak berarti ada di masa tertentu, tetapi hilang di masa yang akan datang. Untuk bisa mencapainya dibutuhkan keberanian dan ketabahan.

4.     Nyawang Karep

Konsep terakhir ini erat kaitannya dengan bagaimana caranya mengelola keinginan. Nyawang Karep atau melihat keinginan adalah konsep yang diusung Ki Ageng Suryamentaram dalam rangka untuk menyadari bahwa kesalahan dalam mengelola keiginan bisa berakibat fatal. Keinginan harus mutlak dikelola diri sendiri tanpa bergantung dari kondisi luar. Maka kebagiaan sejati bisa dinikmati oleh manusia.

Demikian konsep Ilmu bahagia yang dipaparkan oleh Ki Ageng Suryamentaram. Tokoh yang sangat inspiratif bagi manusia yang ingin mencari jati dirinya (eksistensial). Agak mirip konsep psikologi eksistensial yang digagas oleh Viktor Frankl. Frankl mengembangkan Logotherapy setelah bertahan hidup di kamp konsentrasi Nazi, berargumen bahwa manusia tetap bisa menemukan makna hidup di tengah penderitaan. Kesamaan ini tentunya bisa juga dirasakan oleh manusia pada umumnya, sehinga bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. (joe/fan)

Editor : Sofan Kurniawan
yogyakarta nusantara jawa Filsafat