Han Sing Tjiang dan Jejak Orang Tionghoa dalam Sejarah Mojokerto

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 06:34 WIB

Han Sing Tjiang pada 1940-an. (Sumber: Basuki Soejatmiko, 1982: 286)
Han Sing Tjiang pada 1940-an. (Sumber: Basuki Soejatmiko, 1982: 286)

SEJARAH tidak hanya membincangkan dikotomi penjajah dan terjajah, bangsa asing dan pribumi, atau nasionalisme dan imperialisme. Salah satu kelemahan historiografi Indonesiasentris justru terletak pada kecenderungannya menempatkan masa lalu secara dikotomis. Karena itu, historiografi alternatif menjadi menarik untuk melihat sejarah dari sudut pandang yang lebih beragam.

Hal tersebut antara lain diulas Bambang Purwanto dalam bukunya Gagalnya Historiografi Indonesiasentris. Sejarah pada dasarnya merupakan dinamika yang cair. Ada begitu banyak warna di dalamnya, bukan sekadar hitam dan putih.

Namun, membaca sejarah hari ini juga menghadirkan tantangan tersendiri. Terlebih di era post-truth, ketika hyper information telah menjadi bagian dari kehidupan. Kerumunan opini dapat mengaburkan fakta, bahkan membuat kebenaran historis menjadi semakin sulit dibaca secara jernih.

Kisah tentang orang-orang Tionghoa di Mojokerto menjadi salah satu bagian menarik untuk melihat kompleksitas tersebut. Di balik narasi besar tentang kolonialisme dan perjuangan kemerdekaan, terdapat individu-individu dengan pengalaman, posisi sosial, dan perjalanan hidup yang beragam.

Salah satunya adalah Han Sing Tjiang. Nama Han Sing Tjiang tercatat sebagai lulusan Europeeshe Lagere School Djombang. "Informasi tersebut disebutkan dalam suntingan Basuki Soejatmiko berjudul Etnis Tionghoa di Awal Kemerdekaan Indonesia: Sorotan Bok Tok Pers Melayu-Tionghoa Desember 1945–September 1946 (1982: 286)," ujar Fendy Suhartanto, pemerhati sejarah Mojokerto. 

Jejak Han Sing Tjiang juga dapat ditemukan dalam struktur pemerintahan kolonial di Mojokerto. Pada 1928, Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan kebijakan bestuurshervorming, atau penataan pemerintahan. Kebijakan tersebut dituangkan dalam Staatsblad van Nederlandsch-Indie 1928 No. 464.

Salah satu konsekuensinya adalah pembentukan Regentschapsraad Modjokerto, atau Dewan Kabupaten Mojokerto. Surat kabar Soerabaijasch Handelsblad edisi 29 Januari 1929 memberitakan rencana pelantikan anggota Regentschapsraad Modjokerto. "Pelantikan dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 6 Februari 1929, pukul 09.00, bertempat di Societeit Concordia. Pelantikan dilakukan oleh C. A. Schnitzler selaku Residen Mojokerto," ucap Fendy mengutip surat kabar tersebut. 

Nama-Nama Anggota Regentschapsraad Mojokerto pada 1930-an. (Sumber: Voornaamste Voorschriften en Personalia betreffende de Decentralisatie en de Bestuurshervorming, alsmede de Grondwet en de Indische Staatsregeling, 1931: 238)
Nama-Nama Anggota Regentschapsraad Mojokerto pada 1930-an. (Sumber: Voornaamste Voorschriften en Personalia betreffende de Decentralisatie en de Bestuurshervorming, alsmede de Grondwet en de Indische Staatsregeling, 1931: 238)

Dewan tersebut beranggotakan 19 orang. Komposisinya terdiri atas 13 penduduk pribumi, empat orang Eropa, satu orang Arab, dan satu orang Tionghoa.

Untuk perwakilan orang Tionghoa, nama yang tercatat adalah Han Sing Tjiang. Dalam pemberitaan Soerabaijasch Handelsblad 29 Januari 1929, ia disebut sebagai koopman te Modjokerto, atau pedagang di Mojokerto.

Kehadiran Han Sing Tjiang dalam dewan tersebut menunjukkan bahwa posisi masyarakat Tionghoa di Mojokerto pada masa kolonial tidak semata-mata dapat dilihat dalam kerangka sederhana antara pribumi dan orang asing. "Ada individu Tionghoa yang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sekaligus masuk dalam struktur pemerintahan lokal bentukan kolonial," sambung guru sejarah pada sekolah menengah atas di Mojokerto ini. 

Menariknya, Han Sing Tjiang tidak hanya dikenal sebagai pedagang dan anggota Dewan Kabupaten Mojokerto. Ia juga memiliki pengalaman di industri gula, salah satu sektor ekonomi penting di wilayah Mojokerto pada masa itu.

Han Sing Tjiang tercatat sebagai lulusan Suiker School, sekolah yang mendidik calon tenaga kerja untuk industri gula. Pada awal abad ke-20, sekolah tersebut terdapat di Surabaya dan Madura.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Suiker School, Han Sing Tjiang bekerja di SF Sentanan Lor sebagai chemiker. Ia kemudian berpindah ke SF Pohjejer dan menjabat sebagai docter kebon. Kariernya berlanjut di SF Tangunan sebagai fabriekatie-chef (Basuki Soejatmiko, 1982: 286).

Dalam struktur industri gula kala itu, chemiker merupakan sebutan untuk tenaga yang berkaitan dengan bagian pengolahan atau penggilingan di pabrik gula. Sementara docter kebon merujuk pada kepala atau pengelola kebun. Adapun fabriekatie-chef dapat dipahami sebagai manajer atau kepala produksi pabrik gula.

Dengan demikian, sosok Han Sing Tjiang memperlihatkan lapisan sejarah Mojokerto yang lebih kompleks. "Ia merupakan orang Tionghoa, tetapi pada saat yang sama merupakan bagian dari dunia pendidikan kolonial, industri gula, aktivitas perdagangan, dan struktur pemerintahan lokal," imbuh lulusan FIB Universitas Negeri Sebelas Maret ini. 

Kisah seperti ini menunjukkan bahwa sejarah Mojokerto tidak selalu dapat dibaca melalui garis pemisah yang tegas antara penjajah dan terjajah, pribumi dan nonpribumi. Di antara kategori-kategori tersebut terdapat manusia dengan pilihan, kepentingan, pekerjaan, pendidikan, dan perjalanan hidup yang beragam.

Di situlah sejarah menjadi lebih menarik. Bukan sekadar mencari siapa yang berada di sisi hitam dan siapa yang berada di sisi putih, melainkan memahami bagaimana manusia menjalani zamannya dalam situasi yang kompleks. (fen)

Editor : Sofan Kurniawan
sejarah mojokerto pecinan