Oleh : Sofanka
Jauh sebelum namanya tercatat dalam sejarah kesusastraan Jawa, Ranggawarsita hanyalah seorang pemuda bernama Bagus Burham, seorang anak bangsawan yang belum menemukan arah bagi keluasan bakatnya. Sang kakek kemudian mengirimnya ke Pesantren Gerbang Tinatar, Tegalsari, Ponorogo, untuk berguru kepada Kiai Hasan Besari. Ia datang ditemani pengasuhnya, Ki Tunojoyo.
Di pesantren itu, Bagus Burham mula-mula diterima dengan baik. Tetapi kehidupan sebagai santri rupanya belum sepenuhnya mampu menundukkan jiwa mudanya. Ketika para santri duduk menyimak pelajaran sang kiai, ia justru kerap meninggalkan pengajian. Pasar tempat ia bertemu dan bercenkrama dengan siapa saja, bahkan dengan bandit. Di sanaa ia menyerap cerita dari kehidupan yang jauh dari kitab-kitab pesantren, lalu mengembara sesuka hati.
Kiai Hasan Besari tentu tidak tinggal diam. Nasihat demi nasihat disampaikan, tetapi perubahan tak kunjung datang. Hingga pada suatu ketika, sang guru memilih ketegasan. Bagus Burham ditegur keras dan diancam dikembalikan kepada keluarganya apabila tetap enggan menempuh proses pembelajaran.
Bagus Burham pun mulai belajar dengan sungguh-sungguh dan menjalani laku tirakat. Dalam kisah yang berkembang dari berbagai sumber, Ia bahkan melakukan laku prihatin selama berhari-hari di sebuah mata air.
Melalui bimbingan Kiai Hasan Besari, anak muda yang dahulu sulit diarahkan itu perlahan berubah. Kepercayaan sang guru pun tumbuh. Bagus Burham kemudian dipercaya membantu menyampaikan dakwah ketika Kiai Hasan Besari berhalangan.
Kelak, ia dikenal sebagai Raden Ngabehi Ranggawarsita, salah seorang pujangga terbesar dalam sejarah Jawa.
Dari Tegalsari, Bagus Burham membawa bekal ilmu dan laku. Dari perjalanan panjangnya, ia menemukan bahasa untuk membaca manusia dan zamannya. Kelak, melalui karya-karyanya, ia tidak sekadar menulis tentang kehidupan, tetapi juga tentang waktu, perubahan, watak manusia dan kegelisahan sebuah zaman.
Dan di belakang perjalanan panjang itu, ada seorang guru, Kiai Hasan Besari. Ia bukan sekadar pengajar yang menyampaikan ilmu, lebih dari itu, Ia seorang guru yang menuntun, sang pembawa lentera hingga Ranggawarsita menjadi Pujangga. (*/fan)