Ranggawarsita: Penyair yang Karyanya Jauh Melampaui Zaman

Sofan Kurniawan • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:40 WIB

 

PUJANGGA: Potret Rangga Warsita dalam olah editing digital.
PUJANGGA: Potret Rangga Warsita dalam olah editing digital.

Nama Ranggawarsita seperti tidak pernah benar-benar selesai diperbincangkan, baik dari kalangan muda hingga orang-orang dewasa. Ia hidup pada abad ke-19, ketika Jawa berada dalam perubahan besar di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Namun, di tengah zaman yang penuh kegelisahan itu, Ranggawarsita memilih jalan yang berbeda, ia membaca perubahan melalui sastra, menuliskannya dalam tembang dan serat, lalu meninggalkan jejak pemikiran yang masih dibicarakan hingga hari ini.


Ranggawarsita lahir dengan nama Bagus Burham pada 15 Maret 1802 di Surakarta. Ia berasal dari keluarga bangsawan dan pujangga Keraton Kasunanan Surakarta. Ia merupakan keturunan Yasadipura, salah satu pujangga besar Jawa. Lingkungan keraton membuatnya akrab dengan dunia sastra, filsafat, tradisi Jawa, dan kehidupan politik pada masanya.


Masa mudanya tidak selalu berjalan mulus. Dalam berbagai kisah tentang kehidupannya, Bagus Burham dikenal memiliki watak yang keras dan gemar melakukan perjalanan. Hingga akhirnya ia berguru kepada sejumlah tokoh agama dan kebatinan. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari petualangan batin dan intelektualnya. Dari seorang pemuda yang mencari arah hidup, ia tumbuh menjadi pujangga yang mampu menggabungkan sastra, ajaran moral, filsafat, dan pandangan tentang perjalanan zaman.


Ketika akhirnya dikenal sebagai Ranggawarsita, namanya semakin kuat di lingkungan Keraton Surakarta. Ia dipercaya sebagai pujangga keraton dan menghasilkan banyak karya. Salah satu yang paling terkenal adalah Serat Kalatidha, sebuah karya yang menggambarkan kegelisahan seorang manusia ketika hidup dalam zaman yang penuh ketidakpastian.
Dalam Kalatidha, Ranggawarsita berbicara tentang apa yang sering disebut sebagai “zaman edan”. Ungkapan itu kemudian menjadi sangat populer karena terasa dekat dengan berbagai keadaan zaman. Namun, karya tersebut tidak sekadar keluhan terhadap keadaan. Di balik kegelisahan itu terdapat pesan tentang bagaimana manusia harus tetap menjaga kewarasan, kehormatan, dan pegangan hidup ketika lingkungan di sekitarnya mengalami kerusakan moral.


Ranggawarsita seolah ingin mengatakan bahwa zaman boleh berubah, kekuasaan boleh berganti, dan keadaan sosial boleh menjadi kacau, tetapi manusia tetap memiliki pilihan untuk menentukan sikapnya. Karena itulah karya-karyanya tidak hanya penting sebagai peninggalan sastra Jawa, tetapi juga sebagai refleksi tentang manusia dan kehidupannya.


Karya Ranggawarsita lainnya, seperti Serat Wedhatama, Serat Jaka Lodang, dan sejumlah karya lain, menunjukkan keluasan pemikirannya. Ia tidak hanya menulis tentang masa lalu, tetapi juga berbicara tentang manusia, spiritualitas, etika, pendidikan batin, dan masa depan.
Menariknya, Ranggawarsita hidup pada masa ketika tradisi Jawa sedang berhadapan dengan perubahan besar. Pengaruh kolonial semakin kuat, struktur sosial berubah, dan dunia keraton tidak lagi memiliki kekuasaan seperti pada masa-masa sebelumnya. Dalam situasi seperti itu, sastra menjadi salah satu cara untuk mempertahankan ingatan dan identitas kebudayaan.


Ranggawarsita tidak melawan perubahan dengan senjata. Ia melawannya melalui kata-kata. Ia menyimpan kegelisahan zamannya dalam karya sastra, sehingga generasi setelahnya dapat membaca kembali bagaimana manusia Jawa menghadapi perubahan.


Ia meninggal di Surakarta pada 24 Desember 1873. Makamnya berada di kompleks pemakaman keluarga di Palar, Klaten. Kepergiannya menandai berakhirnya salah satu masa penting dalam tradisi kepujanggaan Jawa. Ranggawarsita kemudian dikenang sebagai salah satu pujangga besar Jawa, bahkan kerap disebut sebagai pujangga penutup dalam tradisi kepujanggaan keraton Surakarta.


Lebih dari satu setengah abad setelah kematiannya, kalimat-kalimat Rangga Warsita masih menemukan pembacanya. Barangkali karena kegelisahan yang ia tuliskan bukan hanya milik abad ke-19. Manusia selalu hidup di tengah perubahan, selalu berhadapan dengan ketidakpastian, kekuasaan, keserakahan, dan pertarungan nilai.


Itulah sebabnya Ranggawarsita tetap menarik untuk dibaca. Ia bukan sekadar pujangga yang menulis tentang masa lalu. Ia adalah seseorang yang mencoba memahami zamannya melalui bahasa sastra.

Bagi sebagian orang, karya Ranggawarsita dimaknai sebagai ramalan, hal itu tidaklah salah, karena karya, gagasan dan pandangan Rangga Warsita jauh melampaui Zaman.



Editor : Sofan Kurniawan
radar majapahit jawapos.com