KEJADIAN tenggelamnya Kapal Mutiara Sentosa II di area laut Jawa area Pulau Sapudi, Sumenep, Madura pada 2 Agustus 2026 mengingatkan akan kejadian serupa pada 1936. Yakni peristiwa karamnya kapal Van der Wijck yang kerap didengar sebagai sebuah karya sastra maupun film baru-baru ini.
Akan tetapi, kecelakaan laut di laut Jawa tersebut bukanlah cerita fiksi. Meski banyak orang mengenalnya melalui novel karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka).
Menurut Fendy Suhartanto, pemerhati sejarah Mojokerto, novel tersebut mula-mula terbit sebagai cerita bersambung di majalah Pedoman Masjarakat pada 1938, majalah yang dipimpin Hamka sendiri.
Jauh sebelum kisah itu diabadikan dalam sastra, kapal Van der Wijck benar-benar karam di laut Jawa. Kapal milik Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) itu berlayar dari Surabaya menuju Semarang dan Batavia pada malam 19 Oktober 1936. "Kapal dijadwalkan tiba di Semarang keesokan harinya sekitar pukul 09.30. Namun, pada 20 Oktober 1936, kapal tersebut tenggelam sekitar 12 mil dari Pantai Brondong, Lamongan," kata Fendy.
Surat kabar Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indie edisi 20 Oktober 1936 menyebutkan, kapal itu dibangun di galangan kapal Feyenoord, Belanda, pada 1921. Kapal berbobot kotor 2.633 ton dan bobot bersih 1.512 ton itu memiliki tiga kelas penumpang. Kelas I berkapasitas 60 orang, kelas II 34 orang, sedangkan kelas III dapat mengangkut lebih dari 900 penumpang.
Saat musibah terjadi, Van der Wijck mengangkut sekitar 250 orang. Daftar penumpang mencatat terdapat 23 penumpang di kelas I dan II, serta 86 penumpang di kelas III.
"Di antara mereka terdapat seorang perempuan yang memiliki kaitan dengan Mojokerto, yakni Nyonya Wisse bersama bayi yang digendongnya. Ia merupakan istri dokter J. G. Wisse, sebagaimana diberitakan Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indie edisi 20 Oktober 1936," sebut pria lulusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya pada Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Solo ini.
Dalam buku Mojokerto 1838–1942: Penataan Wilayah Kabupaten di Bawah Kuasa Pemerintah Hindia Belanda, Fendy Suhartanto menjelaskan, dr. J. G. Wisse pernah bekerja sekaligus membuka praktik di Mojokerto pada sekitar 1930-an. Ia juga menjadi dokter di pabrik gula milik Eschauzier-Concern.
Selain menjalankan praktik medis, dr. Wisse aktif menulis artikel mengenai penyakit tuberkulosis (TBC) di wilayah Mojokerto dalam berbagai majalah kesehatan pada masa itu. "Pelayanan kesehatan Eschauzier-Concern tersebut kini dikenal sebagai Rumah Sakit Gatoel Mojokerto," timpal pria asal Desa Jabung, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto ini.
Sekitar tiga tahun sebelum tragedi Van der Wijck, Annie Petri menikah dengan dr. J. G. Wisse. Kabar pernikahan mereka dimuat dalam Soerabaijasch Handelsblad edisi 3 November 1933. Pernikahan itu berlangsung di Mojokerto, dan sejak saat itu Annie Petri menggunakan nama Annie Wisse-Petri.
Jenazah Annie Wisse-Petri kemudian dimakamkan di TPU Kembang Kuning, Surabaya. Foto pemakamannya memperlihatkan dr. Wisse berdiri di barisan depan bersama Kolonel Dokter Van der Werff dan Pendeta Van Hoogstraten. Prosesi pemakaman juga dihadiri perwakilan KPM, D. H. de Jong, sebagaimana diberitakan Soerabaijasch Handelsblad edisi 22 Oktober 1936.
Tragedi tenggelamnya Van der Wijck bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga para korban, tetapi juga menyisakan jejak sejarah yang berkaitan dengan Mojokerto. Salah satunya melalui kisah Annie Wisse-Petri, istri seorang dokter yang pernah mengabdikan diri bagi masyarakat Mojokerto pada masa Hindia Belanda. (fen/ram)
Editor : Rizal Amrulloh