Kurang afdal rasanya, jika saat kita menapaki Bumi Majapahit tanpa mampir ke warung legendaris Bubur Seruntul Bu Saudah, di Jalan Raya Mayjen Sungkono, Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Terutama, bagi para penikmat kudapan tradisional berselara cita rasa gurih dan manis.
”Tekstur seruntulnya kenyal dan manis. Perpaduan isian lainnya pas, dan santannya gurih,” ujar Nadya Talitah Rokhma, pelanggan asal Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, Minggu, (3/9). Bubur Seruntul Bu Saudah dibanderol Rp 7 ribu per mangkuk. Dalam satu mangkuk di dalamnya terdapat beragam isian.
Di antaranya bubur sumsum, dawet hijau, mutiara, dan bubur sruntul berwarna kecokelatan. Isian tersebut lantas disempurnakan dengan siraman santan segar dan gurih. Dulu, topping bubur sruntul masih lengkap dengan isian ketan hitam.
Tetapi, ketika dijual Suliasih, putri Saudah, ketan pelengkap bubur seruntul tersebut tidak ada lagi. Meski begitu, resep, bahan, dan proses pembuatannya tak ada yang berbeda. ”Walau es batunya kurang, tetapi bubur seruntul yang kupesan tadi rasanya masih tetap enak,” imbuh Lita, begitu Nadya Talitah Rokhma, akrab disapa.
Penyajian bubur seruntul Bu Saudah terbilang variatif. Bubur sruntulnya dapat disajikan dalam kondisi panas atau dingin. Menyesuaikan selera konsumen dan pelanggan. Porsi bubur sruntulnya pun memuaskan. Guyuran santan yang tersiram seolah menggoda selera siapa pun yang baru mencoba.
”Isinya lumayan banyak, dan bisa bikin kenyang. Apalagi, santannya dikasih hampir full semangkuk,” tandas Abdur Rohim, pelanggan asal Puri, Kabupaten Mojokerto.
Bubur seruntul Bu Saudah sudah ada sejak tahun 1989. Suliasih, 57, menjelaskan, bubur sruntul ini awalnya dijual oleh sang ibu, Saudah. ”Ibu kan wes gak kuat (jualan), aku sing ngganteni ibuk (Lalu setelah itu kan ibu sudah mampu berjualan, sekarang saya yang menggantikan),” paparnya.
Kendati lebih dari tiga dekade dilanjutkan generasi kedua, namun bisnis kuliner keluarga tersebut masih menjadi idola pelanggan dan konsumen. Utamanya, pada jam-jam sarapan pagi dan istirahat makan siang. (sevira adelia/moch chariris)
GENERASI PENERUS: Suliasih, putri Saudah, menuangkan santan dalam semangkuk bubur sruntul. (sevira for Radar Majapahit)
Editor : Chariris