Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Candi Selokelir Ditemukan 1904 Usai Kebakaran Lahan Gunung Penanggungan

radarmajapahit • Senin, 22 Mei 2023 | 06:46 WIB


LERENG GUNUNG: Situs Selokelir berada di area lereng Gunung Penanggungan tengah diekskavasi BPCB Jatim.




TRAWASJawa Pos Radar Mojokerto – Candi Selokelir di Desa Kedungudi, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, punya sejarah tersendiri. Situs peninggalan kerajaan Majapahit itu kali pertama ditemukan oleh salah seorang mandor kebun kopi pada tahun 1904. Sejarah lain menyebut, penemuan itu setelah Penanggungan mengalami kebakaran hebat.





Penemu Candi Selokelir adalah Broekvelt. Salah seorang kontroler alias mandor perkebunan kopi di era kolonial Belanda. Kala itu, Broekveldt dan timnya tengah mengecek kondisi lereng Gunung Penanggungan. Disinyalir, saat itu ia tengah mencari lahan untuk pengembangan tanaman kopi. ”Literasi menyebut Candi Selokelir ini ditemukan pertama kali sekitar tahun 1904 oleh kontroler kebun kopi di era Belanda bernama Broekveldt,” sebut Pahadi, Ketua Tim Ekskavasi Candi Selokelir sekaligus Arkeolog BPCB Jatim.





Terlebih saat itu kawasan Candi Selokelir terdampak kebakaran hebat. Yang mendukung tim untuk melakukan inspeksi. ”Kemungkinan kondisinya setelah terjadi kebakaran itu. Jadi, setelah menemukan Candi Selokelir itu, Jalur Kuno (Kereta Kuda) di Penanggungan itu kelihatan juga,” ungkapnya. Justru, penemuan candi peninggalan Kerajaan Majapahit era Ratu Suhita itu menjadi pintu masuk penemuan ratusan situs lain di kawasan Gunung Penanggungan.





Hanya saja, lanjut Pahadi, saat itu situs yang dibangun pada 1360 Saka tersebut tidak tampak jelas. Hanya tampak gundukan tanah dengan sejumlah batu andesit yang berserakan di sana. ”Saat itu cuma terlihat gundukan tanah saja yang permukaannya penuh batu. Mereka tidak sampai menggali. Berbeda dengan sekarang yang sudah kelihatan terasnya,” urainya.





Dari sejumlah tumpukan batu andesit yang ditemukan, di antara ada yang menarik. Yakni, patung sosok bertopi yang disebut Arca Panji. Namun, kondisi saat kali pertama ditemukan, arca tersebut terpisah tanpa kepala. ”Ukurannya sekitar 1,8 meter. Dan informasinya itu di simpan di Fakultas Seni Rupa ITB,” terangnya.





Tak hanya itu, ada satu arca lain yang ditemukan dalam kondisi tidak utuh di permukaan tanah. ”Cuma dari badan ke lutut saja,” tandas Pahadi. Oleh Broekvelt, sejumlah temuan tersebut lantas didokumentasi dan dilaporkan ke lembaga arkeolog dan kepurbakalaan saat itu. (vad/ron)


Photo
Photo
Editor : Admin