Babad Besuki dan Cerita Aji Saka Diusulkan Masuk Ingatan Kolektif Nasional 2026

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 09:00 WIB
NASKAH KUNO: Salah satu naskah Babad Besuki koleksi Perpustakaan Nasional RI menggunakan aksara Jawa. (Sumber: Disperpusip Jatim)
NASKAH KUNO: Salah satu naskah Babad Besuki koleksi Perpustakaan Nasional RI menggunakan aksara Jawa. (Sumber: Disperpusip Jatim)

RADAR MAJAPAHIT – Dua naskah kuno dari Jawa Timur, Babad Besuki dan Cerita Aji Saka, diusulkan masuk Program Ingatan Kolektif Nasional (IKON) 2026 yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI). 
Kedua naskah tersebut telah dipresentasikan dalam Rapat Dewan Pakar IKON 2026 pada Selasa (18/8). Pengusulan ini menjadi bagian dari upaya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Provinsi Jawa Timur memperkuat pengakuan terhadap manuskrip sebagai sumber pengetahuan sekaligus rekaman sejarah dan kebudayaan masyarakat.

Cerita Aji Saka diusulkan secara bersama oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Malang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta, Universitas Indonesia, Pemerintah Desa Ngadas, serta Ngatono selaku pemilik naskah dari Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Sementara Babad Besuki diusulkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Kabupaten Situbondo.

Cerita Aji Saka memiliki posisi penting dalam khazanah kebudayaan Jawa. Kisah tersebut berkembang dalam berbagai versi dan diwariskan melalui tradisi lisan maupun manuskrip. Selain berkaitan dengan tokoh legendaris, cerita ini memuat narasi mengenai asal-usul aksara Jawa, kesetiaan, pengabdian, kepemimpinan, serta nilai kehidupan masyarakat.

Salah satu jejak tradisi tersebut di Jawa Timur ditemukan dalam kebudayaan masyarakat Tengger. Naskah Sěrat Aji Saka koleksi Ngatono dari Desa Ngadas menjadi salah satu bukti keberadaan tradisi manuskrip Aji Saka yang berkembang dan diwariskan di tengah masyarakat. 

Sementara itu, Babad Besuki memiliki arti penting dalam penelusuran sejarah kawasan Besuki. Naskah tersebut merupakan bagian dari tradisi historiografi tradisional yang merekam berbagai peristiwa, tokoh, dinamika kekuasaan, serta kehidupan masyarakat di kawasan tersebut.

Dalam tahapan presentasi IKON 2026, setiap pengusul diberikan waktu maksimal lima menit untuk memaparkan nilai penting naskah yang diusulkan. Paparan kemudian dilanjutkan dengan tanggapan dan diskusi bersama Dewan Pakar IKON.

Presentasi Cerita Aji Saka disampaikan langsung Kepala Disperpusip Provinsi Jawa Timur Ir. Tiat S. Suwardi, M.Si. Sedangkan Babad Besuki dipresentasikan Sekretaris Disperpusip Kabupaten Situbondo Iddham Arum Bawana, S.STP, M.Si.

Forum tersebut menjadi kesempatan bagi Jawa Timur untuk memaparkan nilai kesejarahan, kebudayaan, dan pengetahuan yang terkandung dalam kedua manuskrip kepada Dewan Pakar IKON.

Selain dua usulan dari Jawa Timur, terdapat sejumlah naskah kuno dari berbagai daerah yang mengikuti tahapan pemaparan di hadapan Dewan Pakar IKON 2026. Di antaranya Naskah Kuno Skriptorium Merapi Merbabu, karya-karya KH Ahmad Rifa’i, Naskah Kuno Sayyid Abdullah bin Iman Desa Tuyuhan Tahun 1755 M, Warisan Berharga Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Lontara Kapita La Mattone, Hukum-Hukum Pelayaran Amanna Gappa, Syair Raja Siak, Sastra Ageng Adidarma, Surat-Surat Sisingamangaraja XII, karya-karya Syekh Abdus Samad Al-Palimbani, Sahaki Bulan, serta Serat Werna-Werni.

Penilaian seluruh usulan dilakukan Tim Ahli dan Dewan Pakar IKON Perpusnas RI. Tahapan presentasi dan diskusi menjadi bagian dari proses penilaian sebelum dilakukan penetapan sebagai Ingatan Kolektif Nasional.

Bagi Disperpusip Jawa Timur, keikutsertaan dalam program tersebut tidak semata mengejar pengakuan nasional. Upaya ini juga diarahkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya manuskrip sebagai sumber pengetahuan dan rekaman kebudayaan.

Pelestarian dan pemanfaatan naskah secara berkelanjutan diharapkan dapat menjaga warisan dokumenter Jawa Timur agar tetap dapat dipelajari generasi mendatang. Langkah tersebut sekaligus memperkuat kontribusi Jawa Timur dalam menjaga ingatan kolektif bangsa. (*/ram)

Editor : Rizal Amrulloh
Sumber : Disperpusip Jatim
Disperpusip Jatim pemprov jatim