RADARMAJAPAHIT – Bumi Majapahit di Mojokerto mewariskan sejumlah peninggalan di masa lampau.
Salah satunya, makam petilasan Raden Arya Winata dan Raden Sukma Wijaya. Kedua tokoh ini diyakini sebagai tokoh penting era Majapahit.
Petilasan yang berupa makam ini berada di Dusun Grinting, Desa Karangjeruk, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.
Supriyo, warga Dusun Grinting mengungkapkan, makam tersebut ditemukan di sebuah lahan milik warga dusun setempat.
Dahulu ditemukannya makam ditandai dengan dua buah batu andesit sebagai nisan.
”Makam ini ditemukan dalam kondisi tak terawat. Kemudian, warga berinisiatif merenovasi untuk dijadikan makam punden,” ujar pria 70 tahun ini, Senin (19/2).
Di areal makam terdapat pepohonan bambu yang memberikan kesan rindang dan sunyi.
Kini, tempat tersebut telah direnovasi dua kali. Renovasi pertama, dibangunkan pagar bambu dan cungkup.
Renovasi kedua, dibangunkan sebuah pendapa untuk para peziarah yang ingin berkunjung.
”Sekitar tahun 2000-an tempat itu direnovasi warga dan karang taruna, supaya dapat dijadikan tempat kegiatan bernilai positif,” tuturnya.
Makam tersebut pernah diteliti oleh ahli spiritual hingga disimpulkan bahwa makam tersebut merupakan petilasan Raden Arya Winata dan Raden Sukma Wijaya.
Tokoh tersebut diyakini warga umum sebagai tokoh berpengaruh di era Majapahit.
Tak jarang peziarah menyebut Raden Sukma Wijaya dengan sebutan Eyang Wiroyudho.
”Raden Arya Winata diyakini sebagai seorang pangeran Kerajaan. Sedangkan Raden Sukma Wijaya diperkirakan sebagai sesepuhnya Majapahit,” paparnya.
Sebelumnya, Supriyo menjelaskan, tokoh Majapahit di petilasan tersebut merupakan cucu dari Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V.
Konon ceritanya, Raden Arya Winata menyelamatkan diri dari kejaran musuh saat berperang.
Kemudian diperintahkan menetap di wilayah Majapahit.
Di wilayah tersebut, Raden Arya Winata juga diberi tugas untuk menjaga wilayah Jatirejo dari kejahatan pencuri yang meresahkan.
”Cerita turun temurun, Raden Arya Winata ini menyelamatkan diri dari musuhnya hingga menetap di desa ini. Kemudian dia ditugaskan dari kerajaan untuk menjaga kawasan tersebut,” imbuhnya.
Selain itu, petilasan berupa makam kerap difungsikan warga setempat pada sejumlah kegiatan.
Baca Juga: Pemukiman Kesatria Majapahit di Belahantengah, Mojosari, Ditemukan Fragmen hingga Prasasti
Seperti, ruwatan desa, pengajian rutinan setiap malam Jumat hingga serangkaian tasyakuran warga.
Belakangan, tempat ini dibuka untuk siapa pun yang ingin mengunjungi.
Petilasan berupa makam ini kerap dikunjungi peziarah dari beragam daerah.
Misalnya, Bali, Banyuwangi, Bojonegoro, Tuban, Sidorajo, Gresik dan Mojokerto.
Di samping itu, makam petilasan ini dikeramatkan oleh sebagian khalayak umum.
Mereka meyakini jika bersemadi dan ritual dengan tujuan tidak baik maka akan mendapatkan sial.
”Siapa pun boleh berkunjung ke makam tersebut. Tapi, diharapkan peziarah datang dengan tujuan yang baik,” pungkasnya. (moch. khasib)
Editor : Moch. Chariris