Buku Srivijaya Diluncurkan, Ungkap Kejayaan Kerajaan Maritim Pertama di Nusantara

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 20:09 WIB
Diluncurkan
NARASI SEJARAH: Peluncuran buku SRIVIJAYA: Power, Trade, and Faith in Indonesia’s First Maritime Empire di Museum Nasional Indonesia, Sabtu (26/9). (Foto: Kemenbud RI/Agung Panji)

RADAR MAJAPAHIT – Peradaban Sriwijaya tidak hanya meninggalkan jejak sebagai kerajaan maritim, tetapi juga membangun jaringan perdagangan, pembelajaran, dan diplomasi yang menghubungkan Nusantara dengan kawasan Asia. Berbagai sisi peradaban tersebut diulas Herald van der Linde dalam buku terbarunya, SRIVIJAYA: Power, Trade, and Faith in Indonesia’s First Maritime Empire.

Buku tersebut diluncurkan di Museum Nasional Indonesia dalam program publik interaktif perdana BERANDA (Berbincang Ragam Budaya). Peluncuran menjadi bagian dari upaya Museum Nasional Indonesia menghadirkan kembali narasi sejarah di balik koleksi yang tersimpan kepada masyarakat.

Herald menjelaskan, penyusunan buku dilakukan melalui penelaahan terhadap ratusan literatur dan sumber sejarah. Buku itu menelusuri perjalanan Sriwijaya melalui berbagai catatan dan peninggalan sejarah, termasuk catatan perjalanan biksu I Tsing pada 670 Masehi.

Salah satu tokoh penting yang dibahas adalah Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Sosok tersebut dikenal melalui prasasti sejarah yang menjadi bagian dari koleksi Museum Nasional Indonesia.

Pembahasan kemudian mengarah pada keterkaitan Sriwijaya dengan Wangsa Syailendra serta periode pembangunan Borobudur. Buku tersebut juga mengulas hubungan sejarah Sriwijaya dengan asal-usul pendirian Singapura.

Muara Jambi dan Jejaring Perdagangan
Salah satu bagian yang menarik dalam pembahasan buku adalah mengenai situs Muara Jambi di Sumatra. Muara Jambi dibahas sebagai salah satu pusat pembelajaran pada masanya. Keberadaan kawasan tersebut menunjukkan bahwa jaringan Sriwijaya tidak hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan, tetapi juga perkembangan pengetahuan.

Herald juga menyoroti peran pelabuhan-pelabuhan di Nusantara. Pelabuhan menjadi titik penting yang menghubungkan berbagai wilayah dalam jaringan perdagangan sekaligus diplomasi internasional.

Gambaran tersebut memperlihatkan Sriwijaya sebagai kekuatan yang berkembang melalui konektivitas maritim. Laut tidak sekadar menjadi jalur transportasi, tetapi menjadi ruang yang menghubungkan perdagangan, pertukaran pengetahuan, keagamaan, dan hubungan antarkawasan.

Museum Nasional Jadi Ruang Diskusi
Peluncuran buku berlangsung di Ruang Teater Gedung C Museum Nasional Indonesia dan menjadi bagian dari program BERANDA yang untuk pertama kalinya dibuka secara resmi bagi masyarakat umum.

Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Estiyanti Nurjadin mengatakan, pemilihan Museum Nasional Indonesia sebagai lokasi peluncuran menjadi momentum penting untuk mempertemukan buku, koleksi museum, dan masyarakat. "Acara kali ini merupakan book launching, karena menurut Pak Herald, acara-acara sebelumnya mengenai buku Sriwijaya merupakan acara yang digelar terbatas. Jadi ini adalah acara pertama yang dibuka secara resmi untuk masyarakat umum,” ungkap Indira.

Menurutnya, pembahasan mengenai Sriwijaya juga memiliki keterkaitan erat dengan koleksi sejarah yang tersimpan di Museum Nasional Indonesia.

Melalui kegiatan tersebut, museum tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga ruang untuk membicarakan konteks dan narasi di balik koleksi.

Museum Nasional Indonesia berharap program BERANDA dapat menjadi ruang interaktif untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai sejarah dan budaya. Peluncuran buku Herald van der Linde menjadi salah satu upaya menghidupkan kembali narasi sejarah kebaharian Nusantara dan relevansinya terhadap pembentukan identitas bangsa. (*/ram)

Editor : Rizal Amrulloh
Sumber : Kemenbud RI
Kemenbud RI Museum Indonesia