MOJOKERTO – Jaring mengembang di atas permukaan Kali Surabaya. Sekejap kemudian, belasan ikan masuk perangkapnya. Sabtu pagi (13/9) sejumlah aktivis dan nelayan ingin mengetahui, ikan apa saja yang masih bertahan dan seperti apa kondisi ekosistemnya.
Aktivis lingkungan Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) bersama Komunitas Nelayan Sekar Mulyo menyusuri Kali Surabaya dari Perning, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, hingga Sumberame, Kecamatan Wringinanom, Gresik. Mereka melakukan sensus ikan di sembilan titik pengamatan.
Ikan yang tertangkap kemudian dicatat dan diidentifikasi. Bukan semata-mata untuk menghitung hasil tangkapan, melainkan untuk melihat keberadaan ikan lokal yang masih menghuni aliran sungai.
Hasilnya cukup menggembirakan. Beragam jenis ikan ditemukan. Jumlahnya pun disebut lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya.
“Sekali tebar jaring ada 12 ikan terjaring. Tahun ini lebih banyak ikan yang didapat dan ada semua jenis. Tahun ini lebih banyak ikan rengkik yang kita dapat,” ujar Paringono, anggota Komunitas Nelayan Sekar Mulyo.
Bagi nelayan, ikan yang muncul dari balik jaring adalah tangkapan. Namun bagi pemerhati lingkungan, ikan merupakan penanda lain tentang kondisi sungai. Semakin beragam kehidupan yang mampu bertahan, semakin banyak pula cerita yang bisa dibaca tentang habitat perairan tersebut.
Kali Surabaya merupakan bagian dari sistem Sungai Brantas. Alirannya berkaitan dengan kawasan Mojokerto, Gresik hingga Surabaya. Sejak lama, sungai ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat, baik untuk pengairan maupun kebutuhan air.
Jejak sejarahnya bahkan jauh lebih tua. Nama Curabhaya tercatat dalam Prasasti Canggu yang dikeluarkan pada 1358 Masehi pada masa Raja Hayam Wuruk. Prasasti tersebut mencatat sejumlah tempat penyeberangan di sepanjang jaringan sungai. Sungai dengan demikian bukan hanya jalur air, tetapi juga jalur pergerakan manusia dan kehidupan ekonomi pada masa itu.
Memasuki era kolonial, sungai ini semakin penting dalam sistem pengelolaan air. Berbagai bangunan pengairan dibangun untuk mengatur aliran sekaligus mengendalikan banjir di kawasan hilir, termasuk Surabaya.
Kini, setelah berabad-abad menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, Kali Surabaya menghadapi tantangan ekologis yang berbeda. Kualitas air, tekanan aktivitas manusia, hingga perubahan habitat turut menentukan apakah ikan-ikan lokal masih memiliki ruang untuk bertahan.
Karena itu, sensus ikan menjadi lebih dari sekadar aktivitas menebar jaring. Dari sembilan titik pengamatan, Ecoton dan nelayan sedang mengumpulkan potongan-potongan kecil tentang kondisi sungai.
Sebab, sungai yang sehat bukan hanya sungai yang airnya terus mengalir. Di dalamnya harus tetap ada kehidupan. Dan ikan-ikan yang berenang di antara arus Kali Surabaya adalah salah satu tanda bahwa kehidupan itu masih ada. (*fan/Radar Majapahit)