RADAR MAJAPAHIT - Taman Arkeologi Leang-Leang di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menjadi salah satu kawasan penting dalam jejak kehidupan manusia prasejarah di Nusantara. Kawasan ini menyimpan sejumlah gua prasejarah dengan tinggalan seni cadas, artefak, serta bukti aktivitas manusia yang berlangsung sejak masa prasejarah.
Dilansir dari laman resmi Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI mencatat, kawasan Leang-Leang sebagai bagian penting dari tinggalan arkeologi di kawasan karst Maros-Pangkep.
Salah satu daya tarik utama Leang-Leang adalah lukisan cadas yang terdapat pada dinding gua. Lukisan tersebut antara lain berupa cap tangan dan gambar babirusa yang diperkirakan berusia sekitar 40.000 tahun. Penelitian terhadap lukisan prasejarah di kawasan Maros mengungkap usia sekitar 39.900 tahun, sehingga menjadi temuan penting dalam kajian mengenai kehidupan manusia modern pada masa prasejarah.
Jejak kehidupan manusia prasejarah di kawasan ini tidak hanya berupa lukisan. Berbagai artefak batu dan tinggalan aktivitas manusia juga ditemukan di sejumlah gua. Kawasan karst Maros bahkan dikenal memiliki banyak gua yang menyimpan tinggalan arkeologis dari berbagai periode.
Nama Leang-Leang sendiri berasal dari bahasa Makassar. Kata leang berarti gua, sedangkan pengulangan kata tersebut merujuk pada kumpulan atau himpunan gua. Kawasan ini menjadi salah satu lokasi penting untuk melihat jejak kehidupan manusia prasejarah melalui tinggalan yang masih berada di lingkungan aslinya.
Salah satu gua penting di kawasan tersebut adalah Leang Pettae. Gua ini menjadi bagian dari sejarah penelitian seni cadas di Sulawesi. Pada dindingnya ditemukan gambar cap tangan dan figur babirusa. Selain lukisan, terdapat pula tinggalan berupa alat serpih, bilah, serta kulit kerang yang menunjukkan aktivitas manusia pada masa lalu.
Tidak jauh dari Leang Pettae terdapat Leang Petta Kere. Gua ini menyimpan sejumlah tinggalan budaya berupa lukisan babirusa, cap tangan, alat serpih dan bilah, serta artefak lainnya.
Di Leang Petta Kere terdapat sekitar 27 gambar cap tangan. Gua ini juga memiliki lukisan babirusa yang menjadi salah satu representasi penting seni cadas prasejarah di kawasan Maros. Tinggalan tersebut memperlihatkan kemampuan manusia masa lalu dalam menghasilkan ekspresi visual pada dinding gua.
Salah satu lukisan yang menjadi perhatian adalah gambar babirusa yang digambarkan dengan bagian tubuh tertusuk senjata. Di sekitarnya terdapat sejumlah cap tangan. Sementara warna merah pada lukisan cadas di kawasan ini berkaitan dengan penggunaan bahan mineral alami sebagai pigmen.
Penelitian mengenai lukisan gua di kawasan Maros-Pangkep juga menunjukkan bahwa tinggalan tersebut menghadapi berbagai ancaman kerusakan. Kajian konservasi yang dilakukan pemerintah menemukan kerusakan yang dapat dipengaruhi faktor alam maupun aktivitas manusia, antara lain pelapukan fisik, biologis, dan kimiawi. Karena itu, pelestarian lukisan membutuhkan pengelolaan yang memadukan aspek lingkungan, konservasi arkeologis, dan pemanfaatan sumber daya arkeologi.
Keberadaan Taman Arkeologi Leang-Leang dengan berbagai tinggalan tersebut memberikan gambaran mengenai panjangnya perjalanan kehidupan manusia di Nusantara. Lukisan cadas, alat batu, sisa aktivitas sehari-hari, hingga lingkungan gua menjadi rangkaian bukti yang membantu para peneliti memahami kehidupan masyarakat prasejarah.
Bagi masyarakat, kawasan ini sekaligus menjadi ruang edukasi untuk mengenal warisan budaya prasejarah Indonesia secara langsung. Leang-Leang tidak hanya menyimpan keindahan lukisan cadas, tetapi juga memperlihatkan bagaimana manusia masa lalu berinteraksi dengan lingkungan dan menghasilkan ekspresi budaya yang bertahan hingga ribuan tahun.
Dengan nilai arkeologis yang dimilikinya, pelindungan kawasan Leang-Leang menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya prasejarah Indonesia agar tetap dapat dipelajari dan dikenali oleh generasi mendatang. (*/ram)
Editor : Rizal AmrullohSumber : Museum dan Cagar Budaya Kemenbud RI