Perahu Kuno Nusantara Bisa Angkut 350 Ton, Bukti Kuatnya Teknologi Maritim Masa Lampau

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 11:30 WIB
SIMBOL MARITIM: Monumen kapal Majapahit di Simpang Empat Sekarputih, Kota Mojokerto.
SIMBOL MARITIM: Monumen kapal Majapahit di Simpang Empat Sekarputih, Kota Mojokerto.

RADAR MAJAPAHIT – Teknologi perahu masyarakat Nusantara pada masa lampau ternyata telah berkembang cukup maju. Salah satu jenis perahu kuno bahkan diperkirakan mampu mengangkut muatan hingga 350 metrik ton dan digunakan untuk mendukung pelayaran jarak jauh.

Gambaran tersebut disampaikan arkeolog Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ery Soedewo dalam webinar Majapahit dan Nusantara: Membaca Kembali Konsep Wilayah, Kekuasaan, dan Konektivitas yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, Kamis (27/8).

Salah satu bukti teknologi tersebut berasal dari temuan perahu kuno di Situs Punjulharjo, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Hasil analisis radiokarbon terhadap sampel tali ijuk menunjukkan perahu tersebut berasal dari abad ke-7 hingga ke-8 Masehi.

Artinya, perahu Punjulharjo diperkirakan telah digunakan sekitar 500 tahun sebelum Kerajaan Majapahit berdiri. Meski demikian, menurut Ery, teknologi perahu sejenis kemungkinan masih digunakan hingga masa Majapahit.

”Situs perahu ini ada di dekat pantai utara Jawa,” kata Ery dalam webinar tersebut.

Perahu Punjulharjo memiliki panjang sekitar 17,9 meter dengan lebar 5,6 meter. Berdasarkan penelitian, perahu tersebut dibuat dari kayu ulin menggunakan teknik penyambungan antarpapan, papan ikat, dan kupingan peningkat.

Rekonstruksi terhadap perahu kuno tersebut menunjukkan karakteristik sarana transportasi laut yang dirancang untuk pelayaran. Perahu jenis itu diperkirakan memiliki dua layar dan kemudi berukuran cukup panjang.

Dengan ukuran tersebut, kemampuan angkutnya tergolong besar untuk teknologi perahu pada masa itu.

”Muatan yang bisa diangkut dengan perahu jenis ini hingga 350 metrik ton,” ujarnya.

Temuan tersebut juga memperkuat dugaan bahwa masyarakat Nusantara telah memiliki kemampuan pelayaran jarak jauh sejak masa lampau. Keberadaan perahu dengan ukuran dan teknologi serupa menunjukkan berkembangnya budaya maritim yang menghubungkan berbagai kawasan di Nusantara dan Asia.

 

Jejak Teknologi Perahu Membentang hingga Asia Selatan

Jejak teknologi perahu kuno tidak hanya ditemukan di Jawa. Temuan dengan karakter teknologi serupa juga terdapat di Situs Butuan, Mindanao, Filipina, serta Situs Perahu Kadakkarapally di pesisir Malabar, Kerala, India.

Menurut Ery, kemiripan teknologi tersebut menunjukkan adanya hubungan pengetahuan dan aktivitas maritim antarkawasan pada masa lampau.

”Teknologi perahu yang serupa ini ditemukan mulai dari Filipina hingga ke Asia Selatan di pesisir barat India,” katanya.

Perahu menjadi salah satu sarana penting yang memungkinkan berlangsungnya perdagangan lintas wilayah. Jaringan pelayaran tersebut mempertemukan pedagang dari berbagai kawasan sekaligus membuka jalur pertukaran komoditas dan produk.

Berbagai komoditas lokal bernilai ekonomi tinggi turut dibawa melalui jalur pelayaran, termasuk rempah-rempah, kamper yang berasal dari getah aromatik, dan kemenyan.

Aktivitas perdagangan tersebut tidak hanya membawa komoditas dari Nusantara ke kawasan lain. Barang-barang manufaktur dari luar juga masuk dan beredar di Nusantara, termasuk keramik dari Tiongkok yang ditemukan dalam konteks perdagangan pada masa Majapahit.

”Masuknya beragam produk manufaktur mancanegara juga menjadi pendukung kesinambungan kawasan Nusantara,” imbuh Ery.

Rangkaian temuan tersebut menunjukkan bahwa laut bukan sekadar pemisah antarpulau. Sejak masa lampau, jalur laut justru menjadi penghubung masyarakat Nusantara dengan kawasan Asia melalui aktivitas pelayaran, perdagangan, dan pertukaran budaya.

Dalam konteks sejarah Majapahit, perkembangan teknologi dan jaringan maritim tersebut menjadi salah satu bagian penting untuk memahami bagaimana konektivitas Nusantara terbentuk jauh sebelum dan hingga periode kerajaan tersebut. (adi/ris) 

Editor : Rizal Amrulloh
Perahu Kuno maritim kapal majapahit