Semboyan tersebut disadur dari Kakawin Sutasoma (atau dikenal juga sebagai Purusadasanta), sebuah karya sastra berbentuk kakawin karangan Mpu Tantular. Naskah ini ditulis antara tahun 1365 hingga 1389 pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk di Kerajaan Majapahit. Terdiri dari 148 pupuh, Kakawin Sutasoma tercatat sebagai salah satu kakawin terpanjang yang pernah ditulis dalam sejarah sastra Nusantara.
Pesan Toleransi di Tengah Gejolak Perang
Berdasarkan keterangan naskah koleksi Perpusnas RI bernomor registrasi 22 L 557, frasa "Bhinneka Tunggal Ika" secara spesifik muncul pada pupuh 139 bait 5. Petikan teks Jawa Kuna tersebut berbunyi:
"Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiśwa / Bhīnneki rakwa ring apan kĕna parwanosĕn / Mangkā ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal / Bhīnneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa."
Dalam terjemahannya, naskah tersebut memuat pesan mendalam mengenai penyatuan paham spiritual:
"Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belahlah itu, tetapi satu jualah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran."
Secara kontekstual dalam naskah, kalimat ini muncul di tengah krisis peperangan ketika sosok Purusada mengamuk dan berubah menjadi Kālāgnirudra yang mengerikan karena kesaktiannya diluluhkan oleh keindahan Pangeran Sutasoma—titisan Buddha. Kebijaksanaan dan ajaran tanpa kekerasan (ahimsa) Sutasoma melatarbelakangi turunnya para dewa dan resi untuk meredam kemarahan Purusada, mengingat Siwa dan Buddha pada hakikatnya adalah satu.
Simbol Konsolidasi Politik Majapahit
Selain aspek spiritual, penulisan Kakawin Sutasoma juga dilatarbelakangi oleh situasi politik internal Majapahit yang memanas. Pada kurun waktu tersebut, terjadi persaingan antara Istana Barat yang dipimpin Hayam Wuruk dan Istana Timur di Pamotan yang didirikan oleh mertuanya, Sri Wijayarajasa (Bhre Wengker). Ketegangan antar elit ini berlanjut hingga generasi penerusnya—Bhre Wirabhumi di Istana Timur dan Wikramawardhana di Istana Barat—yang akhirnya memuncak pada Perang Paregreg tahun 1404.
Merujuk pada studi Aoyama (1992) yang dikutip Perpusnas RI, Mpu Tantular sengaja merangkai narasi Sutasoma sebagai bentuk tawar-menawar diplomasi politik dan upaya konsolidasi internal dinasti Majapahit sejak dini.
"Konsep Buddha-Raja dinilai sebagai model alternatif dari seorang raja yang dapat mempertahankan tatanan sosial tanpa menggunakan kekerasan dan persekutuan yang didasarkan pada hubungan kekerabatan tertentu," tulis riset tersebut.
Relevansi Diplomasi Masa Kini
Meski kini Kakawin Sutasoma lebih populer karena frasa "Bhinneka Tunggal Ika" yang diterjemahkan sebagai berbeda-beda tetapi tetap satu jua, pesan inti dari naskah kuno ini tetap relevan. Perpusnas RI menekankan bahwa baik dari latar belakang terciptanya naskah maupun konteks pemunculan frasanya, Kakawin Sutasoma membawa benang merah yang sama, yaitu pentingnya diplomasi.
Proses diplomasi dan negosiasi damai terbukti harus terus diupayakan dalam menyelesaikan konflik—mulai dari deteksi dini potensi masalah politik, hingga ketika peperangan sedang berkecamuk sekalipun. (*/ram)
Editor : Rizal AmrullohSumber : Perpusnas RI