Mojokerto di Mata Valentyn, Junghuhn, dan Wallace

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:12 WIB
EKSPEDISI: Laporan perjalanan Francois Valentyn dalam Buku Oud en Nieuw Oost-Indien. (Sumber: Francois Valentyn, 1724)
EKSPEDISI: Laporan perjalanan Francois Valentyn dalam Buku Oud en Nieuw Oost-Indien. (Sumber: Francois Valentyn, 1724)

RADAR MAJAPAHIT - Hindia Timur menarik minat para penjelajah. Mereka mengarungi lautan demi mencatatkan pengalaman dalam lembaran sejarah. Tempat-tempat yang dilalui dan disinggahi tergambarkan dalam tulisan mereka. Mereka menjejaki wilayah tersebut hingga ke pedalaman. Tak terkecuali Pulau Jawa, termasuk wilayah yang kini disebut Mojokerto.

Pada awal abad ke-18, Francois Valentyn menjejakkan kaki di tanah Jawa. Ia merupakan seorang misionaris sekaligus naturalis. Kala itu, kekuasaan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) mampu menandingi kekuasaan Mataram di Jawa.

"Ia menggambarkan Mojokerto, yang saat itu masih disebut Japan, dalam bukunya berjudul Oud en Nieuw Oost-Indien (Amsterdam, Dordrecht: Joannes van Braam, Gerard Onder de Linden, 1724)," ungkap Fendy Suhartanto, pemerhati sejarah Mojokerto.

Dia menjelaskan, menurut Valentyn, di wilayah Japan pernah berdiri Kerajaan Majapahit, salah satu kerajaan tertua di Jawa. Saat itu terdapat sepuluh desa dengan lebih dari 1.300 rumah tangga.

Lebih lanjut, Valentyn mengatakan Japan merupakan daerah yang ramai. Terdapat rumah yang cukup besar dan kokoh yang menurutnya dapat menampung 1.000 orang. Di sana terdapat paseban, masjid, kuil orang Moor, dan pasar yang besar. Rumah-rumah penduduknya memiliki tampilan yang sangat indah (1724: 42–50).

"Apakah bangunan besar yang dapat menampung banyak orang itu merupakan pendopo Kadipaten Japan? Informasi tersebut belum dapat dipastikan," beber Fendy.

TLATAH JAWA: Laporan perjalanan Franz Willem Junghuhn dalam Buku Java, Zijne Gedaante, Zijn Plantentooi, en Inwendige Bouw. (Sumber: Franz Willem Junghuhn, 1853)
TLATAH JAWA: Laporan perjalanan Franz Willem Junghuhn dalam Buku Java, Zijne Gedaante, Zijn Plantentooi, en Inwendige Bouw. (Sumber: Franz Willem Junghuhn, 1853)

Kurang lebih 150 tahun setelah Francois Valentyn menuliskan catatannya tentang Jawa, datang seorang geolog bernama Franz Willem Junghuhn. Ia juga menjelajahi pedalaman Pulau Jawa pada 1850-an.

Kala itu, pemerintahan pribumi tidak lagi disebut Japan, tetapi sudah ditulis Mojokerto. "Laporan perjalanan Junghuhn dibukukan dengan judul Java, Zijne Gedaante, Zijn Plantentooi, en Inwendige Bouw ('s-Gravenhage: C. W. Mieling, 1853)," sebut pria lulusan Ilmu Sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS) ini.

Junghuhn mengatakan wilayah Kabupaten Mojokerto, Karesidenan Surabaya, berada di sekitar Gunung Arjuno dan Gunung Kelud. Ia juga mengatakan bahwa wilayah Kabupaten Mojokerto merupakan bekas Kerajaan Majapahit (1853: 346–347). Memang benar, dalam laporan Junghuhn disebutkan bahwa di wilayah Mojokerto terdapat banyak peninggalan era Majapahit.

 

Deskripsi cukup panjang tentang Mojokerto ditulis Alfred Russel Wallace. Ia menjelajahi Pulau Jawa pada Juli–Oktober 1861. Hasil penjelajahannya kemudian dibukukan dengan judul The Malay Archipelago: The Land of the Orang-Utan and the Bird of Paradise: A Narrative of Travel, with Studies of Man and Nature (London: Macmillan and Co., 1880).

JELAJAH: Laporan perjalanan Alfred Russel Wallace dalam Buku The Malay Archipelago. (Sumber: Alfred Russel Wallace, 1880)
JELAJAH: Laporan perjalanan Alfred Russel Wallace dalam Buku The Malay Archipelago. (Sumber: Alfred Russel Wallace, 1880)

Alfred Russel Wallace mengatakan bahwa ia singgah di Mojokerto. Di Mojokerto tinggal seorang asisten residen sebagai penguasa Belanda dan seorang bupati sebagai penguasa pribumi. Mojokerto merupakan kota yang rapi dan memiliki ruang terbuka hijau seperti lapangan. Di atasnya berdiri pohon ara yang indah. Di bawahnya terkadang terdapat semacam pasar dan tempat bagi penduduk untuk bersantai serta berbincang (1880: 100–101).

Sama halnya dengan Junghuhn, Wallace juga menyebut bahwa di Mojokerto terdapat bekas reruntuhan kota kuno Majapahit. Bisa jadi, yang dimaksud ruang terbuka hijau seperti lapangan tidak lain adalah Alun-Alun Mojokerto. Sedangkan yang dimaksud pohon ara ialah pohon beringin yang biasanya terdapat di alun-alun.

Dalam perjalanan Wallace dari Mojokerto menuju Mojoagung, ia berhenti dan melihat bekas reruntuhan kota kuno Majapahit. Yang terlihat seperti sebuah gerbang, dengan dua susunan batu bata yang tinggi (1880: 101). Sangat mungkin bangunan itu kini dikenal sebagai Gapura Wringin Lawang.

PENINGGALAN SEJARAH: Gapura Wringin Lawang Tahun 1890-an.
(Sumber: digitalcollections.universiteitleiden.nl)
PENINGGALAN SEJARAH: Gapura Wringin Lawang Tahun 1890-an. (Sumber: digitalcollections.universiteitleiden.nl)

Wallace juga singgah di Wonosalam untuk mengumpulkan beberapa spesimen. Perjalanan menuju Wonosalam melewati hutan yang sangat indah. Dalam perjalanan, ia melewati reruntuhan makam kuno atau mausoleum. Makam tersebut seluruhnya terbuat dari batu dan terdapat relief. Wallace memutuskan untuk tinggal beberapa waktu di Wonosalam (1880: 102–104).

Makam kuno tersebut tidak lain adalah bangunan yang sekarang dikenal sebagai Candi Rimbi.

Setelah seminggu berada di Wonosalam, Wallace turun gunung menuju Desa Japanan. Ia disambut kepala desa yang menyiapkan ruangan untuk tempat Wallace singgah. Selama kurang lebih satu bulan, Wallace berada di Wonosalam dan Japanan. Kemudian, ia kembali ke Surabaya dengan perahu melalui jalur sungai (1880: 108–110).

WARISAN BUDAYA: Candi Rimbi Tahun 1890-an.
(Sumber: digitalcollections.universiteitleiden.nl)
WARISAN BUDAYA: Candi Rimbi Tahun 1890-an. (Sumber: digitalcollections.universiteitleiden.nl)

Di era Hindia Belanda, Sungai Brantas masih memainkan peran penting sebagai urat nadi perekonomian. Seperti diberitakan surat kabar Java Bode pada 15 Februari 1854, pengangkutan gula milik Kapitan Cina Kediri dilakukan dengan perahu melalui Sungai Brantas.

"Sebanyak 40 keranjang diangkut dari Kediri menuju Mojokerto. Namun, mengalami kecelakaan di dekat Ploso, Jombang. Hanya 17 keranjang gula yang dapat diselamatkan," pungkas Fendy. (fen/ram)

Editor : Rizal Amrulloh
majapahit eksplorasi jawa timur