RADAR MAJAPAHIT - Trem yang dikelola Oost-Java Stoomtram Maatschappij (OJS) pada jalur Mojokerto-Ngoro (Jombang) melintasi sejumlah halte dan pemberhentian. Dalam buku panduan perjalanan Officieele Reisgids der Spoor en Tramwegen en Aansluitende Automobieldiensten op Java en Madoera, Uitgave van 1 Mei 1926, tercatat sejumlah halte atau stasiun yang dilalui.
Dimulai dari Mojokerto Kali, Mojokerto Stasiun, Penarip, Kepindon, Kedungpring, Brangkal, Gemekan, Jati Pasar, Trowulan, Tanggalrejo, Mojoagung, Rosobo, Dukusari, Pasar Gayam, Selorejo (Pabrik), Mojojejer, Mojowangi, Pasar Mojowarno, Kayen, Guwo, Kertorejo, hingga Ngoro.
Dalam sehari, trem Mojokerto-Ngoro melayani lima kali keberangkatan. Begitu pula dari arah sebaliknya, Ngoro-Mojokerto, terdapat lima kali keberangkatan (1926: 192-193).
Buku De Tramwegen Op Java, Gedenkboek Samengesteld Ter Gelegenheid Van Het Vijf en twintig-jarig Bestaan der Semarang-Joana Stoomtram-Maatschappij (1907) mencatat, jalur Mojokerto-Ngoro digunakan untuk melayani penumpang dan barang. Sedangkan jalur Gemekan-Dinoyo hanya digunakan untuk pengangkutan barang (hlm. 21).
Aktivitas perdagangan melalui jalur trem tersebut cukup besar. Rata-rata pendapatan kotor harian per kilometer jalur Mojokerto-Ngoro pada 1890 tercatat f 1,59 gulden. Angka itu meningkat menjadi f 1,91 gulden pada 1893, f 3,13 gulden pada 1896, dan f 4,40 gulden pada 1899.
Namun, pendapatan tersebut kemudian mengalami penurunan. Pada 1902 tercatat f 3,45 gulden dan pada 1905 sebesar f 3,31 gulden per kilometer per hari (1907: 92).
Penumpang trem dibagi dalam tiga kelas. Kelas 1, Kelas 2, dan Kelas 3 yang diperuntukkan bagi penduduk pribumi. Pada 1905, tiket Kelas 1 terjual sebanyak 3.374 lembar, Kelas 2 sebanyak 30.159 lembar, dan Kelas 3 mencapai 306.251 lembar (1907: IV).
Angkutan barang juga menjadi bagian penting dari operasional jalur Mojokerto-Ngoro-Dinoyo. Beragam komoditas diangkut menggunakan trem, mulai produk gula, kopi, tembakau, kayu, minyak, beras, hingga barang lainnya (1907: V).
Pada 1905, keuntungan bersih yang diperoleh OJS tercatat f 2,43 gulden per kilometer (1907: VI). Dengan panjang jalur Mojokerto-Ngoro sekitar 33,6 kilometer, keuntungan bersihnya jika dihitung berdasarkan angka tersebut mencapai sekitar f 81,65 gulden.
Besarnya aktivitas penumpang dan barang menunjukkan bisnis transportasi darat pada masa itu cukup menjanjikan. Kondisi tersebut pula yang mendorong perusahaan swasta berlomba mendapatkan konsesi pembangunan dan pengelolaan jalur trem. Jalur Mojokerto-Ngoro menjadi salah satu di antaranya.
Sayangnya, jalur trem tersebut akhirnya tidak mampu bertahan. Setelah Indonesia merdeka, jalur tersebut tidak lagi digunakan. Jejaknya perlahan hilang seiring perkembangan jalan raya dan perubahan sistem transportasi. "Membayangkan kalau trem itu masih ada hingga kini. Para pekerja dan anak sekolah bisa berangkat dan pulang naik trem. Tentu tidak akan terjadi kemacetan di jalan raya. Polusi udara pun dapat berkurang," ujar Fendy Suhartanto, pemerhati sejarah Mojokerto.
Menurut dia, keberadaan trem pada masa lalu menunjukkan Mojokerto pernah memiliki jaringan transportasi massal yang menghubungkan kawasan perkotaan dengan wilayah pedesaan. (fen/ram)
Editor : Rizal Amrulloh