Kuda Besi yang Pernah Melingkar di Mojokerto-Mojoagung-Ngoro

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:06 WIB
JARINGAN TRANSPORTASI DARAT: Trem yang digunakan oleh Oost-Java Stoomtram Maatschappij atau OJS. (Sumber: G. H. Von Faber, Oud Soerabaia 1931)
JARINGAN TRANSPORTASI DARAT: Trem yang digunakan oleh Oost-Java Stoomtram Maatschappij atau OJS. (Sumber: G. H. Von Faber, Oud Soerabaia 1931)

RADAR MAJAPAHIT - Sekitar seratus tahun lalu, kuda besi sudah melingkar di tanah Jawa. Pemerintah kolonial membangun jaringan transportasi darat untuk menghubungkan berbagai daerah. Pulau Jawa pun mulai dipenuhi jalur kereta api dan trem. Salah satunya jalur trem Mojokerto-Ngoro (Jombang). 

Menurut pemerhati sejarah Mojokerto, Fendy Suhartanto, banyak jalur trem yang kini sudah tidak dapat disaksikan. Jalur trem Mojokerto-Ngoro, misalnya, nyaris tak lagi tampak. Sebagian lintasannya tertutup aspal jalan raya. Bangunan bekas stasiun dan gudang pun telah beralih fungsi. Sebagian lainnya bahkan hilang ditelan zaman.

Pada masa itu, perusahaan swasta banyak mengajukan konsesi pembangunan jalur kereta api dan trem. G. H. Von Faber (1931), dalam bukunya Oud Soerabaia: De Geschiedenis Van Indies Eerste Koopstad Van De Oudste Tijden Tot De Instelling Van Den Gemesnteraad (1906), menyebutkan bahwa pada Maret 1882 A. C. Benninck Janssonius dan G. A. Oliver mengajukan lisensi pembangunan jalur trem Mojokerto-Ngoro (hlm. 203-204).

Beberapa tahun kemudian, pemerintah kolonial memberikan izin pembangunan. Jalur Mojokerto-Ngoro kemudian dikelola Oost-Java Stoomtram Maatschappij (OJS), perusahaan yang dibentuk pada 7 Juni 1888. Persetujuan dari pemerintah kolonial diperoleh pada 27 Juni 1888 (G. H. Von Faber, 1931: 204).

OJS mengelola dua jalur trem. Pertama, jalur Surabaya-Krian. Kedua, jalur Mojokerto-Ngoro-Dinoyo.

Pembangunan jalur Mojokerto-Ngoro dimulai pada awal 1889 dengan panjang 33,6 kilometer. Pembangunannya dibagi menjadi dua seksi. Yakni, Mojokerto-Mojoagung sepanjang 16,7 kilometer dan Mojoagung-Ngoro sepanjang 16,9 kilometer. Setahun kemudian, pada 1891, dibangun jalur Gemekan-Dinoyo sepanjang 7,8 kilometer.

PERLINTASAN LOKOMOTIF: Jalur trem Mojokerto-Ngoro tahun 1902. (Sumber:https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/814245)
PERLINTASAN LOKOMOTIF: Jalur trem Mojokerto-Ngoro tahun 1902. (Sumber:https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/814245)

Proses pembangunan jalur trem Mojokerto-Ngoro juga diberitakan media massa pada masa itu. Majalah De Locomotief edisi 21 Agustus 1889 (hlm. 353) dan 11 Februari 1891 (hlm. 156) memuat perkembangan pembangunan jalur tersebut.

Disebutkan, pada Juni 1889 pembangunan rel trem telah mencapai 22 kilometer. "Sejumlah jembatan juga dibangun untuk melintasi sungai. Salah satunya memiliki panjang hingga 40 meter," kata Fendy. 

Pada 1 Oktober 1889, jalur Mojokerto-Mojoagung sudah dapat digunakan. Sedangkan jalur Mojoagung-Ngoro mulai beroperasi pada 1 Januari 1890. Setahun kemudian, pembangunan jalur Gemekan-Dinoyo dilaksanakan. Jalur tersebut mulai digunakan pada 5 Maret 1892. (fen/ram)

Editor : Rizal Amrulloh
transportasi darat masa kolonial kereta api lokomotif