Nama Soetjipto Danoekoesoemo masih akrab di telinga masyarakat Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Mojokerto. Anggota Korps Bhayangkara ini memiliki jejak perjuangan panjang pada masa revolusi kemerdekaan. Dari terjun ke medan tempur di bumi Majapahit, ia lalu meniti karier hingga diamanahi menjadi Kapolri ke-3 Republik Indonesia (RI).
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, masa awal kemerdekaan RI menjadi batu loncatan bagi Soetjipto Danoekoesoemo berkarier di institusi kepolisian. Pada 1945, perwira didikan Jepang ini mendapat mandat sebagai Komandan Batalyon Polisi Istimewa Surabaya.
Saat pecahnya revolusi, markas komando Polisi Istimewa di Kota Surabaya tak mampu dipertahankan. Pasukan yang dimpimpin Soetjipto Danoekoesoemo akhirnya memilih untuk mundur ke Mojokerto pada Desember 1945. ’’Awalnya, Desa Canggu di Kecamatan Jetis dipilih sebagai markas sementara,’’ ungkapnya.
Polisi Istimewa lalu melakukan konsolidasi sekaligus merapatkan barisan kembali anggota dari Karesidenan Surabaya yang sempat tercerai berai. Setelah berhasil menyusun perangkat organisasi. Di wilayah yang berada di utara Sungai Brantas ini, perangkat organisasi berhasil dibentuk lagi.
Selanjutnya, papar dia, Polisi Istimewa Karesidenan Surabaya kembali memindahkan markas komandonya di daerah Kecamatan Gedeg. ’’Pemindahan markas tersebut untuk memudahkan komunikasi dengan kekuatan perjuangan lainnya yang berpusat di Kota Mojokerto,’’ tandasnya.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, kekuatan pasukan Polisi Istimewa ini kemudian bertransformasi menjadi Mobile Brigade atau kini dikenal Korps Brimob. Bersama kekuatan perjuangan lainnya, mereka membentuk benteng pertahanan untuk menghadang musuh yang berupaya memperluas wilayah kekuasaan. ’’Soetjipto Danoekoesoemo membagi pasukannya pada beberapa sektor pertahanan,’’ ulas penulis buku Revolusi di Pinggir Kali: Pergerakan di Mojokerto Tahun 1945-1950 ini.
Garis pertahanan di sektor selatan berada di Desa Krikilan dan Banjaran, Kecamatan Driyorejo, dan Desa Pasinan, Kecamatan Wringinanom. Sedangkan di sektor utara berada di Kecamatan Benjeng hingga Balongpanggang yang sama-sama berada di wilayah Kabupaten Gresik.
Sedangkan sektor tengah berada di titik Desa/Kecamatan Dawarblandong dan sektor barat di Kecamatan Ngoro dan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. ’’Dengan jumlah enam kompi, kekuatan pasukan Soetjipto Danoekoesoemo terhitung mumpuni,’’ jelas Yuhan.
Sayangnya, pada 17 Maret 1947, Mobile Brigade Karesidenan Surabaya harus meninggalkan markas di Kecamatan Gedeg. Mereka terpaksa mundur akibat serangan mendadak pasukan Belanda. Meski sempat melakukan perlawanan, namun pertempuran yang tak seimbang membuat kendaraan panser milik polisi paramiliter ini hancur.
Yuhan menyebut, Soetjipto Danoekoesoemo akhirnya terpukul mundur ke Ploso, Kabupaten Jombang. ’’Selanjutnya Mobil Brigade Karesidenan Surabaya ditempatkan di bawah komando Divisi Pertempuran Surabaya,’’ tuturnya.
Bekas Markas Mobil Brigade Karesidenan Surabaya tersebut hingga saat ini masih dipertahankan keasliannya. Meskipun, gedungnya kini difungsikan sebagai Puskesmas Lespadangan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto.
Dari Komandan Pertempuran hingga Nakhodai Polri
Sementara itu, pada saat Agresi Militer Belanda II pada 18 Desember 1948, pasukan Mobile Brigade Karesidenan Surabaya kembali diterjunkan di garis depan pertempuran. Pasukan kepolisian ini bergabung dengan pasukan Komando Hayam Wuruk untuk merebut kembali kemerdekaan RI.
Ayuhanafiq menuturkan, Mobile Brigade Karesidenan Surabaya ditugaskan untuk melakukan operasi penyerangan di pos pertahanan Belanda yang berada di Desa Dinoyo, Kecamatan Jatirejo. Serangan diam-diam ini rencananya dilakukan malam hari. ’’Soetjipto Danoekoesoemo telah membagi masing-masing kompi pasukannya untuk melakukan penyerangan,’’ sambungnya.
Dikatakannya, operasi di Dinoyo tersebut merupakan bagian dari serangan serentak yang diinisiasi Komado Hayam Wuruk di selatan Mojokerto. Pasukan yang dikomandoi Mayor Pamoe Rahardjo berencana menyergap dari hutan menuju Pacet, Pugeran, dan Trawas.
Menjelang dini hari, Soetjipto Danoekoesoemo meletupkan tembakan ke arah musuh yang menandai mulai penyerangan merebut Dinoyo. Serangan pasukan dari empat penjuru mata angin ini membuat tentara Belanda sempat terjepit.
Namun, kolonial memberi serangan balasan dengan kekuatan persenjataan yang lebih unggul. Setelah kontak senjata berlangsung selama kurang lebih lima jam, pertempuran akhirnya berakhir setelah Belanda menurunkan tank. ’’Soetjipto Danoekoesoemo memerintahkan pasukannya mundur saat fajar,’’ sebutnya.
Kompi Mobile Brigade Karesidenan Surabaya akhirnya memisahkan diri. Di antaranya menuju ke Desa Bleberan dan Lebakjabung, Kecamatan Jatirejo. Mereka kemudian berpindah-pindah tempat di wilayah Kabupaten Jombang. Meski Dinoyo gagal direbut, namun serangan pasukan di bawah pimpinan Soetjipto Danoekoesoemo mengacaukan pos pertahanan musuh.
Sosok kelahiran Tulungagung, 28 Februari 1922 ini menapaki karier cemerlang di kepolisian. Pada 1962, Soetjipto Danoekoesoemo dipromosikan menjadi Komandan Mobile Brigade Polisi Pusat. Selanjutnya, dia resmi menyandang pangkat Jenderal Polisi dan dilantik menjadi Kapolri ke-3 di RI dengan masa bakti dari 30 Desember 1963 hingga 8 Mei 1965. (ram/fen)