Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Kisah Runtuhnya Pabrik Gula di Mojokerto, Terapkan Taktik Bumi Hangus agar Tak Dikuasai Kolonial Belanda

Rizal Amrulloh • Rabu, 29 April 2026 | 18:04 WIB
PERTAHANKAN KEMERDEKAAN: Mural di sebuah dinding pabrik tentang pesan pejuang untuk melalukan taktik bumi hangus agar bangunan tak dikuasai musuh. (foto: dok. JPRM)
PERTAHANKAN KEMERDEKAAN: Mural di sebuah dinding pabrik tentang pesan pejuang untuk melalukan taktik bumi hangus agar bangunan tak dikuasai musuh. (foto: dok. JPRM)

DI era kolonial, Mojokerto menjadi salah satu daerah penyangga industri gula di Jawa Timur.

Pada masa keemasannya, berdiri hingga belasan pabrik gula (PG). Namun, sebagian besar runtuh saat tercapainya kemerdekaan RI.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mencaritakan, eksistensi pabrik gula di Mojokerto berawal dengan dibangunnya Suikerfabriek Sentanen Lor pada awal dekade 1830-an.

Industri yang didirikan di dekat aliran Sungai Brantas ini menjadi pioner pabrik gula di pada era kolonial. 

’’Keberhasilan pembukaan pabrik gula yang dinaungi Eschauzier Concern ini kemudian dilanjutkan dengan investasi industri yang sama di beberapa wilayah lainnya,’’ ungkapnya.

Beberapa di antaranya berdiri PG Brangkal, PG Dinoyo, dan PG Bangsal. Semua pabrik gula itu dinaungi oleh konsorsium perusahaan yang dinakhodai taipan asal Belanda, Gerald Eschauzier. 

Manisnya industri gula juga dilirik oleh beberapa pengusaha lainnya. Hingga kemudian pabrik gula berkembang pesat di wilayah Mojokerto. ’’Tercatat ada 12 pabrik gula dibangun di Mojokerto,’’ tutur sosok yang akrab disapa Yuhan ini.

Tak hanya di pusat kota, pabrik gula juga tersebar di empat wilayah karesidenan Mojokerto. Tak sekadar berdiri, seluruhnya mengalami masa kejayaan hingga awal abad ke-20. 

Pada 1930, industri gula mulai goyah akibat diterpa krisis ekonomi global. Badai resesi juga memaksa keberlangsungan pabrik gula. Yuhan mengatakan, beberapa di antaranya terpaksa berhenti produksi.

Bahkan, ada pula yang dijual dan dialihfungsikan ke sektor usaha lain. Nasib pabrik gula makin terpuruk saat masa pendudukan Jepang.

Karena hampir seluruh infrastruktur pabrik gula digunakan tentara Nippon untuk kegiatan militer. ’’Bangunan pabrik gula dijadikan bengkel senjata,’’ tandas dia.

Setelah tercapainya proklamasi kemerdekaan RI,  bangunan pabrik gula dikuasai oleh para pejuang.

Eks industri dijadikan sebagai asrama saat masa revolusi. Karena setelah peristiwa pertempuran Surabaya 10 November 1945, Mojokerto menjadi pusat perjuangan revolusi.

Kembalinya pasukan Belanda bersenjata lengkap membuat garis pertahanan pejuang tertembus. Maka, jelas Yuhan, pejuang memutuskan untuk menerapkan taktik bumi hangus. 

’’Semua bangunan dan fasilitas, termasuk pabrik gula dimusnahkan agar tidak dapat digunakan oleh militer Belanda saat menduduki Mojokerto,’’ tandas Yuhan. (ram/fen)

Editor : Martda Vadetya
#sungai brantas #mojokerto #pabrik gula #kolonial #kemerdekaan ri