TAHUN Baru Imlek di Mojokerto tak hanya dirayakan oleh warga keturunan Tionghoa. Masyarakat lokal juga turut menantikan suasana dan kemeriahan hari raya ini.
Ayuhanafiq memaparkan, sejak masa kolonial, Imlek menjadi salah satu hari raya yang menyedot animo masyarakat.
Sejak sore hari, kemeriahan mulai terasa yang ditandai dengan dentuman suara petasan. ”Banyak masyarakat yang datang ke kota untuk melihat pesta petasan,” tandasnya.
Jalanan di Kota Mojokerto dipadati oleh masyarakat dari berbagai wilayah kecamatan. Bahkan, di kawasan Pecinan keramaiannya berlangsung hingga malam hari.
Sebab, kata dia, setelah ritual keagamaan di Kelenteng Hok Sian Kiong, detik-detik pergantian Tahun Baru Imlek ini juga kembali diramaikan dengan pesta petasan.
Dikatakannya, warga keturunan Tionghoa secara serentak menyalakan mercon dari atap rumah. Bahkan, rentengan petasan juga juga dikerek ke atas tiang dan kemudian diletupkan.
”Pesta petasan ini yang dinantikan banyak orang guna melihat kemeriahan saat Tahun Baru Imlek,” tandas dia.
Layaknya Hari Raya Lebaran, usai Tahun Baru Imlek, jalanan di kota banyak bertebaran bekas kertas pembungkus mercon.
Meski kini tak ada lagi pesta petasan, namun tradisi menyambut Imlek juga masih mendapat sambutan meriah dari masyarakat. Tradisi-tradisi budaya juga masih tetap dilestarikan hingga saat ini. (ram/ris)
Editor : Martda Vadetya