LUDRUK kembali mengalami perkembangan yang dinamis setelah pergantian kekuasaan. Di masa Orde Baru, seni teater rakyat ini bertransformasi menjadi sarana penyampaian program pemerintah.
Ayuhanafiq mengungkapkan, ludruk sempat mengalami masa suram setelah meletusnya peristiwa Gerakan 30 September alias G30S PKI.
Akibat gerakan pemberontakan di tahun 1965 ini menyebabkan penggung ludruk menjadi lengang. Termasuk di Mojokerto yang tak lagi terdapat jadwal pentas. ”Panggung ludruk yang sebelumnya ramai mendadak jadi sunyi,” tuturnya.
Menurutnya, tak sedikit seniman ludruk yang diamankan, utamanya yang berhaluan dengan PKI. Kondisi tersebut membuat kelompok-kelompok ludruk terpaksa gulung tikar.
Setelah masa transisi ke Orde Baru, panggung kesenian perlahan kembali menggeliat. Momentum ini sekaligus menjadi penanda transformasi ludruk yang tak lagi memiliki keterkaitan dengan partai politik tertentu.
Hanya saja, ungkap Yuhan, dalam suguhan penampilannya diselipkan pesan terkait capaian dan program pemerintahan.
”Karena panggung ludruk juga menjadi sarana komunikasi pembangunan pemerintah,” tandasnya.
Seiring berjalannya waktu, hingga kini ludruk masih eksis sebagai seni pertunjukan rakyat. Di Mojokerto lahir sejumlah kelompok ludruk, salah satunya Karya Budaya yang telah berdiri lebih dari setengah abad. (ram/ris)
Editor : Martda Vadetya