SELAIN Societiet Concordia, pembangunan gedung juga dilakukan untuk menyediakan ruang dari kelompok masyarakat lainnya. Antara lain dengan berdirinya Gedung Brantas hingga Balai Muslimin.
Ayuhanafiq menambahkan, Gedung Brantas dibangun di area Pasar Kliwon di Jalan Mojopahit, Kota Mojokerto. Lokasi ini dipilih karena di masa kolonial merupakan kawasan Pecinan. ’’Gedung Brantas dibangun oleh perkumpulan warga keturunan Tionghoa,’’ sebutnya.
Dijelaskannya, Gedung Brantas lebih banyak digunakan untuk sarana kegiatan hiburan dan olahraga.
Karenanya, gedung yang dinaungi organisasi Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) ini lebih sering dijadikan sebagai panggung kesenian dari ludruk hingga wayang. ’’Juga digunakan untuk menggelar pertandingan olahraga,’’ bebernya.
Gedung Brantas juga sempat dialihfungsikan menjadi gedung film dengan nama Bioskop Brantas. Sayangnya, bangunan ini sudah tinggal riwayat karena terdampak revitalisasi Pasar Kliwon kala itu.
Selain itu, Balai Muslimin juga turut memberi warna perkembangan pembangunan gedung pertemuan di Kota Mojokerto.
Sesuai dengan namanya, pendirian gedung yang berada di Jalan Taman Siswa ini diprakarsai oleh kaum muslimin. ’’Balai Muslimin menjadi simbol kekuatan sosial politik Islam saat itu,’’ urainya.
Yuhan mengatakan, Balai Muslimin dimanfaatkan untuk agenda kegiatan sosial keagamaan. Di antaranya forum rapat organisasi Islam dan menggelar majelis taklim yang diikuti banyak jemaah.
Selanjutnya, gedung ini dikelola oleh Muhammadiyah dan kini digunakan sebagai lembaga sekolah. (ram/fen)
Editor : Martda Vadetya