NAMA Arsid Kromohadisoerjo dikenal sebagai salah satu tokoh yang memiliki rekam jejak panjang di masa prakemerdekaan hingga tercapainya proklamasi. Sebelum didapuk sebagai Wali Kota Mojokerto periode 1954-1961, priayi bergelar Mas Ngabehi (M.Ng) ini pernah bergabung sebagai tentara Pembela Tanah Air (PETA).
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, Arsid Kromohadisoerjo merupakan sosok yang berpendidikan.
Setelah lulus dari Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) atau sekolah calon aparat pemerintah Bumiputera tahun 1923, ia mendapat mandat untuk bekerja di lingkungan Pemerintahan Hindia Belanda.
Di birokrasi, Arsid Kromohadisoerjo menempuh karir dari tingkat staf hingga menduduki sejumlah jabatan. Posisi tersebut diemban di sejumlah pemerintah daerah.
’’Saat pendudukan Jepang, beliau (Arsid Kromohadisoerjo, Red) juga sempat berpindah-pindah mengisi jabatan di Probolinggo dan Malang,’’ ujarnya.
Karier Arsid Kromohadisoerjo sempat berpindah haluan dari jabatan sipil ke militer. Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, transisi tersebut terjadi ketika Jepang membentuk PETA.
Menurutnya, Arsid Kromohadisoerjo bergabung dengan kesatuan tentara sukarela setelah mendaftar dan lolos pendidikan perwira.
Sehingga, sosok kelahiran Malang, tahun 1906 ini langsung diamanahi jabatan sebagai daidancho atau setingkat komandan batalyon. ’’Arsid ditempatkan di Daidan Pasuruan,’’ tuturnya.
Jabatan militer masih melekat hingga tercapainya proklamasi kemerdekaan RI. Karena setelah PETA dibubarkan, para eks pejuang dan anggota kelaskaran dilebur ke dalam Barisan Keamanan Rakyat (BKR). ’’Arsid kemudian ditunjuk sebagai Ketua BKR Karesidenan Malang,’’ urainya.
Figur yang memiliki darah priayi ini kembali menempati posisi strategis. Tepatnya saat BKR bertransformasi menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945.
Arsid Kromohadisoerjo diangkat sebagai Komandan Resimen 1 yang berkedudukan di Malang dengan pangkat kolonel.
Di tanah kelahirannya, ia memimpin pasukan TKR untuk terjun ke medan pertempuran di masa revolusi.
Yuhan mengatakan, perjalanannya di Kota Mojokerto terjadi saat Arsid Kromohadisoerjo kembali masuk ke dalam struktur pemerintahan.
Setelah mengabdi di Kabupaten Pasuruan, mantan perwira PETA ini menginjakkan kaki di bumi Majapahit setelah wilayahnya jatuh ke tangan Belanda.
Sejumlah posisi penting di Pemkot Mojokerto pernah didudukinya. Hingga akhirnya, Arsid Kromohadisoerjo dipercaya untuk menakhodai Kota Mojokerto menggantikan Soetimbul yang digeser menjadi Wali Kota Pasuruan pada 1954. (ram/fen)
Editor : Martda Vadetya