PASCA kemerdekaan tercapai, para pemuda bersama pejuang melakukan gerakan perebutan senjata dari tangan pasukan Jepang. Namun, organisasi Angkatan Moeda tak bertahan lama akibat terjadinya dinamika di masa revolusi.
Kendati demikian, spirit untuk mempertahankan kedaulatan masih tetap hidup dengan membentuk organisasi perjuangan baru.
Ayuhanafiq menyebutkan, Angkatan Moeda kemudian bertransformasi menjadi Pemoeda Rakyat Indonesia (PRI). ”Angkatan Moeda di Mojokerto melebur dalam PRI,” ulasnya.
Wadah anyar ini tak kalah masifnya dengan Angkatan Moeda yang memiliki jumlah anggota hingga ribuan.
Hampir semua kalangan pemuda tersebut ikut bergabung dengan PRI yang berinduk di Kota Surabaya ini.
Yuhan mengatakan, peleburan Angkatan Moeda Mojokerto menjadi PRI resmi dibentuk pada 13 Oktober 1945.
Perubahan itu sebagaimana termuat dalam surat kabar Soeara Rakjat yang terbit di Surabaya. ”Posisi ketua PRI kemungkinan masih tetap dijabat oleh dokter Soekandar," tandasnya.
Setelah terbentuk, PRI Mojokerto menggelar kegiatan akbar di Alun-Alun Mojokerto. Agenda bertajuk rapat raksasa ini diikuti sekitar 2 ribu peserta tersebut menyatakan komitmen bersama.
Salah satunya mengajak para pemuda untuk tetap berjuang dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Serupa dengan Angkatan Moeda, eksistensi PRI juga relatif cukup singkat. Itu seiring kembali terjadinya perubahan nama yang menjelma menjadi Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) pada 10 November 1945.
Sementara posisi pucuk pimpinan diserahkan kepada Soemaoen sebagai ketua Pesindo Mojokerto. Sebab, dr Soekandar diangkat menjadi Bupati Mojokerto.
”Pesindo Mojokerto mulai surut setelah Mojokerto jatuh ke tanggan Belanda pada 17 Maret 1947,” tutur penulis buku Revolusi di Pinggir Kali, Pergerakan di Mojokerto Tahun 1945-1950 ini. (ram/ris)
Editor : Martda Vadetya