TANGGAL 5 Oktober menjadi tonggak bersejarah yang diperingati sebagai Hari Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Lahirnya korps angkatan bersenjata ini ditandai dengan perubahan Badan Keamanan Rakyat (BKR) menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di tahun 1945.
Pada awal pembentukannya, TKR didirikan di semua daerah, termasuk di Mojokerto. Raden Soemardjo yang sebelumnya telah menakhodai BKR tetap diberi mandat sebagai komandan TKR Mojokerto.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, R. Soemardjo memiliki latar belakang kemiliteran sejak masa prakemerdekaan.
Menurutnya, sosok berpangkat kapten tersebut pernah bergangung sebagai anggota Pembela Tanah Air (PETA).
Setelah proklamasi, R. Soemardjo juga dipercaya menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Mojokerto dan kemudian amanahi memimpin BKR Mojokerto.
Namun, tak lama setelah didapuk menjadi komandan TKR Mojokerto, R. Soemarjo gugur di medan pertempuran dalam mempertahankan kemerdekaan RI. ’’Kapten Soemardjo gugur dalam pertempuran di Surabaya pada 29 Oktober 1945,’’ ulasnya.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, pada masa revolusi, BKR Mojokerto ikut turun ke baris depan pertahanan di Kota Pahlawan.
Menurutnya, terdapat dua kompi pasukan yang diterjunkan pada 27 Oktober 1945 atau setelah tentara Sekutu mendarat di Surabaya.
Sepeninggal R. Soemardjo, tongkat komando TKR Mojokerto dipegang oleh Mayor Marhadi. Selalu komandan militer daerah Mojokerto, Marhadi turut membubuhkan tanda tangan dalam Soempah Keboelatan Tekad yang diinisiasi Komandan BKR Surabaya Soengkono.
Dikatakan Yuhan, sumpah tersebut berisi tentang kesepakatan untuk merapatkan barisan dalam mempertahankan Kota Surabaya dari ancaman Sekutu.
Hal itu menyusul adanya ultimatum agar para pejuang di Surabaya pada menyerahkan senjata tanpa syarat tanggal 9 November 1945.
’’Konflik di Surabaya semakin meruncing setelah meninggalnya Jenderal Mallaby (pimpinan pasukan Sekutu),’’ tandas dia.
Keesokannya, meletus pertempuran antara pasukan pejuang dan tentara Sekutu yang dikenal sebagai peristiwa 10 November 1945.
Setelah bertempur selama 21 hari, pasukan TKR akhirnya terpukul mundur dan Kota Surabaya diduduki oleh musuh. (ram/fen)
Editor : Martda Vadetya