Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Ledakan Populasi Picu Anjing Peliharaan Dilepasliarkan, Begini Riwayat Pengendalian Hewan Liar pada Masa Kolonial di Mojokerto

Rizal Amrulloh • Kamis, 25 September 2025 | 12:00 WIB
GAPURA KOLONIAL: Kantor UPTD Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Mojokerto yang dulu digunakan sebagai tempat karantina dan pemusnahan hewan liar di masa pemerintahan HIndia-Belanda. (dok. JPRM)
GAPURA KOLONIAL: Kantor UPTD Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Mojokerto yang dulu digunakan sebagai tempat karantina dan pemusnahan hewan liar di masa pemerintahan HIndia-Belanda. (dok. JPRM)


TIAP tanggal 28 September menjadi momen peringatan World Rabies Day. Pada bulan ini, hewan-hewan peliharaan, khususnya anjing diimbau untuk melakukan vaksinasi guna mencegah penyebaran penyakit rabies.

Di masa kolonial, pengendalian persebaran penyakit ini pernah digalakkan akibat populasi anjing liar di Mojokerto mengalami peningkatan yang signifikan.

Di era pemerintahan kolonial, anjing menjadi salah satu jenis hewan peliharaan. Mayoritas dimiliki oleh penduduk berkebangsaan Eropa yang tinggal di wilayah Kota Mojokerto.

’’Saat itu anjing banyak dipelihara sebagai hewan penjaga,’’ ulas sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq.

 

 

Menurutnya, warga nonpribumi memelihara anjing untuk mencegah tindakan kejahatan di rumah mereka.

Namun, keberadaan hewan-hewan tersebut kemudian justru menimbulkan persoalan. Salah satunya dipicu karena populasi anjing yang mengalami peningkatan drastis.

’’Perkembangbiakan anjing tidak terkontrol, sehingga mengalami ledakan jumlah,’’ papar pria yang akrab disapa Yuhan ini.

 

 

Persoalan mulai muncul saat para pemilik melepasliarkan anjing peliharaan mereka. Selain alasan kandang yang sudah overkapasitas, tindakan tersebut juga dilakukan untuk menghindari pajak.

’’Karena di masa kolonial, anjing termasuk hewan yang dikenakan pajak,’’ sebutnya.
Akibatnya, pada kisaran tahun 1926 banyak anjing berkeliaran di wilayah Kota Mojokerto.

Kondisi tersebut akhirnya menimbulkan permasalahan baru yang berujung terjadinya konflik sosial.

Sebab, ungkap Yuhan, penduduk lokal merasa terganggu terhadap keberadaan anjing liar.

Selain dianggap hewan yang berpotensi membayahakan, kenyamanan masyarakat juga terganggu akibat gonggongan anjing liar.

 

 

’’Penduduk akhirnya melaporkan gangguan anjing liar itu ke Volksraad atau dewan Kota Mojokerto,’’ tandasnya.

Di samping itu, banyaknya anjing liar juga dikhawatirkan berdampak pada masalah kesehatan.

Terutama terhadap penyebaran rabies atau penyakit anjing gila yang disebabkan akibat gigitan hewan bertaring tersebut. (ram/fen)

Editor : Martda Vadetya
#masa kolonial #world rabies day #masalah kesehatan #overkapasitas #anjing liar #Kota Mojokerto #eropa #penyakit rabies