JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Trowulan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, menjadi salah satu kawasan arkeologi paling penting di Indonesia.
Tak heran jika Trowulan kini disebut sebagai ''Kota Peninggalan Sejarah'' dan menjadi destinasi wisata budaya yang terus berkembang. Menurut sejarah, jantung pemerintahan Majapahit yang kala itu disebut Wilwatikta adalah Trowulan.
Dari sinilah lahir sumpah legendaris Mahapatih Gajah Mada, menyatukan Nusantara adalah tekadnya. Hingga saat ini, melalui berbagai situs, candi, dan peninggalan yang tersebar di kecamatan ini jejak kebesaran itu masih bisa ditemui.
Di antara peninggalan yang paling terkenal adalah Candi Tikus, petirtaan kuno yang ditemukan pada 1914 di Desa Temon. Struktur berbentuk kolam ini dipercaya sebagai tempat mandi ritual bagi raja dan bangsawan.
Keunikan arsitekturnya menggambarkan Gunung Mahameru, simbol kosmik dalam ajaran Hindu. Setelah dilakukan pemugaran pada 1980-an, Candi Tikus kini menjadi salah satu objek favorit wisatawan.
Baca Juga: Jejak Kota Kuno Majapahit yang Masih Bisa Dikunjungi di Trowulan
Tak jauh dari sana, di desa Bejijong, berdiri Candi Brahu. Candi Brahu diperkirakan lebih tua dari era Majapahit dan arsitekturnya menyerupai stupa Buddha. Konon, tempat kremasi atau peringatan untuk para penguasa penting dilakukan di candi ini.
Adanya pengaruh Buddha sebelum dominasi Hindu dalam struktur pemerintahan Majapahit telah dibuktikan oleh Candi Brahu. Selain itu, terdapat Gapura Bajang Ratu, gapura paduraksa megah dengan relief Ramayana, yang diyakini sebagai monumen penghormatan untuk Raja Jayanegara.
Ada pula Gapura Wringin Lawang, gerbang terbelah yang disebut-sebut sebagai pintu masuk kediaman Mahapatih Gajah Mada. Keduanya menjadi saksi kemegahan arsitektur dan tata kota Majapahit yang teratur dan monumental.
Tak ketinggalan Kolam Segaran, dibangun tanpa perekat dan hanya dengan susunan bata merah presisi waduk kuno dengan seluas 6,5 hektare ini dibangun. Kolam ini bukan sekadar penampung air, melainkan simbol kemajuan teknologi pengelolaan sumber daya di masa lalu sekaligus pusat aktivitas masyarakat bertempat.
Hingga kini, kegiatan budaya sering digelar di kolam tersebut. Bagi wisatawan yang ingin memahami lebih dalam, Museum Trowulan menjadi tujuan utama. Diresmikan pada 1987, museum ini menyimpan ribuan artefak mulai dari patung, keramik, terrakota, prasasti, hingga peralatan rumah tangga masyarakat Majapahit.
Baca Juga: Konon Berada di Wilayah Trowulan, Begini Fungsi Alun-alun di Zaman Kerajaan Majapahit
Koleksi tersebut juga mencakup peninggalan dari era Kahuripan, Kediri, dan Singhasari, menjadikan museum ini salah satu yang terlengkap di Indonesia. Revitalisasi kawasan Trowulan terus dilakukan oleh Pemerintahan Daerah bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya.
Agar kawasan ini bisa memenuhi standar internasional, pemugaran candi, pembangunan jalur wisata, hingga program edukasi masyarakat terus dijalankan. Sejak 2009, agar masuk dalam daftar Warisan Dunia, Trowulan telah diajukan ke UNESCO, meski hingga saat ini prosesnya masih berjalan.
Lebih dari sekadar destinasi wisata, Trowulan memiliki makna mendalam bagi identitas bangsa Indonesia. Trowulan kini berpotensi menjadi pusat wisata sejarah berskala internasional dengan akses transportasi yang semakin baik, serta dukungan infrastruktur pariwisata yang berkembang.
Tidak hanya menarik wisatawan domestik, tetapi juga peneliti dan pelancong mancanegara yang ingin menelusuri akar peradaban Nusantara. Trowulan adalah cermin kejayaan masa lalu yang masih bersinar hingga hari ini.
Melalui pelestarian yang serius, kawasan ini diharapkan tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga warisan dunia yang diakui, sehingga kisah Majapahit tetap hidup di generasi mendatang.
Baca Juga: BPK Wilayah XI Lempar Sinyal Gelar Ekskavasi Lanjutan Situs Candi Brahu Trowulan Mojokerto
Tri Yulia Setyoningrum/FADYA
Editor : Imron Arlado