MAYOR Jenderal (Mayjen) TNI Soengkono menjadi salah satu tokoh militer sekaligus pejuang yang namanya diabadikan sebagai nama jalan protokol di Kota Mojokerto.
Tak sekadar formalitas, namun penyematan identitas mantan Komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan sekaligus mengenang perjuangannya dalam mempertahankan kemerdekaan di wilayah Mojokerto.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, Mayjen Soengkono resmi dijadikan sebagai nama ruas jalan pada akhir 1977.
Penetapan dilakukan melalui pengambilan persetujuan bersama dalam rapat paripurna DPRD dan Pemkot Mojokerto.
’’Penamaan jalan tersebut dilakukan setelah Mayjen Soengkono meninggal dunia,’’ terangnya.
Nama Mayjen Soengkono disematkan pada ruas jalan yang membentang di tepi Sungai Brantas.
Tepatnya dari bawah jembatan Gajah Mada hingga perbatasan Kota Mojokerto dengan Dusun Jatikulon, Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto.
Dengan penetapan itu, maka ruas jalan yang sebelumnya bernama Jalan Nabati-yasa ini telah sah berganti jadi Jalan Mayjen Soengkono.
Peresmian dilaksanakan oleh Wali Kota Mojokerto Suhartono pada tanggal 17 Desember 1977.
’’Mojokerto jadi daerah pertama yang menggunakan nama Mayjen Soengkono sebagai nama jalan,’’ tandanya.
Dikatakannya, perubahan nama jalan bertujuan untuk mengenang tapak tilas dan perjuangan dari tokoh yang pernah menduduki jabatan Panglima Divisi I Brawijaya Jawa Timur ini.
Baca Juga: Mengapa Majapahit Hancur? Yuk, Telusuri Akar Keruntuhan Kerajaan Terbesar Nusantara Ini!
Karena itu, ruas jalan yang dipilih merupakan jalur yang memiliki nilai historis dengan Mayjen Soengkono.
’’Jalan tersebut dulu pernah dipakai sebagai jalur meloloskan diri dari musuh,’’ tutur sosok yang akrab disapa Yuhan ini.
Tak selang beberapa lama, nama Mayjen Soengkono kembali digunakan sebagai nama dari perguruan tinggi swasta.
Universitas yang berada di Jalan Irian Jaya, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto tersebut resmi menggunakan nama pejuang kemerdekaan tersebut pada 1981. (ram/fen)
Editor : Martda Vadetya