JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Kerajaan Majapahit dikenal bukan hanya karena kejayaanya di bidang politik dan militer, tetapi juga karena peradabannya yang tinggi dalam aspek budaya dan gaya hidup.
Salah satu refleksi dari kemajuan ini tampak dalam cara masyarakatnya berpakaian menggunakan perhiasan, dan merawat diri dengan kosmetik.
Dari kalangan bangsawan hingga rakyat biasa, tiap golongan memiliki khas penampilan yang mencerminkan status sosial, kepercayaan, dan nilai estetika pada masa itu.
Pakaian Jadi Simbol Status dan Budaya
Pakaian masyarakat Majapahit pada umumnya terbuat dari kain tenun lokal, seperti kain poleng, kain lurik, atau kain batik sederhana.
Namun, jelas terlihat perbedaan antara pakaian rakyat biasa dengan bangsawan.
Rakyat biasa mengenakan kain panjang yang dililit di pinggang dan disarungkan tanpa atasan, terutama bagi pria. Kaum perempuan mengenakan kemben dan kain panjang yang dililitkan ke tubuh.
Pakaian mereka fungsional dan sederhana, disesuaikan dengan pekerjaan sehari-hari di ladang atau pasar.
Sedangkan bangsawan dan keluarga kerajaan memakai pakaian dengan kualitas kain yang lebih halus.
Dan dihiasi motif yang rumit dan warna yang mencolok seperti merah, emas, dan ungu adalah warna yang sering diasosiasikan dengan kekuasaan.
Mereka juga mengenakan selendang panjang yang disampirkan di bahu serta ikat pinggang emas atau perak yang menunjukan status tinggi.
Perhiasan: Kilau Kekuasaan dan Keindahan
Perhiasan adalah bagian yang sangat penting dari penampilan diera Majapahit, terutama bagi bangsawan dan kaum elit.
Bangsawan selalu mengenakan berbagai perhiasan, seperti gelang (kelat bahu), anting besar, kalung bertingkat, dan juga cincin emas.
Banyak di antaranya dihiasi oleh batu permata dan motif bunga atau mitologi Hindu-Buddha.
Perhiasan bukan hanya untuk hiasan saja, tetapi juga sebagai simbol spiritual dan juga pelindung diri.
Rakyat biasa juga menggunakan perhiasan, namun biasanya terbuat dari bahan yang lebih sederhana seperti perunggu, tembaga, atau kayu.
Bentuknya juga lebih kecil dan tidak terlalu mencolok, tetapi mencerminkan kecintaan mereka pada keindahan.
Kosmetik dan Perawatan Diri: Warisan Tradisi Leluhur
Kosmetik dan perawatan tubuh sudah dikenal di Majapahit, terutama di kalangan wanita bangsawan. Mereka menggunakan bahan-bahan alami untuk merawat kecantikan dan kesehatan kulit mereka.
- Bedak dan lulur terbuat dari tepung beras, rempah-rempah, bunga, dan juga akar wangi. Ini digunakan untuk menjaga kebersihan tubuh serta mempercantik kulit.
- Minyak wangi dan ramuan rambut, seperti minyak kelapa yang dicampur bunga melati, digunakan untuk menjaga kelembutan dan keharuman rambut.
- Tato dan hiasan tubuh juga kadang digunakan, terutama dikalangan tertentu, sebagai bentuk ekspresi diri dan juga spiritualitas.
Refleksi Budaya dan Identitas
Gaya hidup masyarakat Majapahit tidak hanya mencerminkan kemewahan saja atau estetika semat, tetapi juga nilai-nilai budaya, agama, dan status sosial.
Pakaian dan perhiasan tidak berdiri sendiri, melainkan menyatu dengan ritual, adat, dan struktur masyarakat.
Jejak gaya hidup ini masih dapat kita lihat dalam tradisi-tradisi jawa dan bali masa kini. Beberapa motif batik, bentuk perhiasan, bahkan kebiasaan merawat diri dengan bahan alami, masih diwarisi dari zaman keemasan Majapahit
Pakaian, perhiasan, dan kosmetik di era Majapahit adalah cermin dari kejayaan peradaban Nusantara.
Warisan ini menjadi bukti bahwa sejak dulu, bangsa indonesia telah memiliki penghargaan tinggi terhadap keindahan, seni, dan warisan leluhur. AILEEN ZNR
Editor : Imron Arlado