SEMENTARA itu, Soemajoedo merupakan dokter lulusan Stovia, sekolah untuk calon dokter pribumi di era Hindia-Belanda.
Sebelum ke Mojokerto, ia sempat melanglang ke berbagai daerah. ’’Soemarjoedo ini seorang dokter Jawa kelahiran tahun 1875,’’ papar Binhad Nurrohmad.
Sebagai seorang dokter, ungkap dia, Soemajoedo kerap berpindah-pindah tempat dinas.
Beberapa kota yang pernah pernah disinggahinya. Antara lain Makassar, Donggala, Boyolali, Jawa Barat, Surabaya, Malang, Jombang, dan Mojokerto.
Soemarjoedo juga memiliki saudara yang juga sama-sama berprofesi sebagai tenaga medis.
’’Adiknya bernama Sam Joedo, juga dokter yang terkenal di Bandung, hasil penelitiannya tentang pororitis (1920) tersimpan di Perpustakaan University of Toronto,’’ tuturnya.
Soemarjoedo juga pernah memimpin klinik gratis di Sidobajanstraats di Jombang.
Fasilitas kesehatan (faskes) yang bernana Klinik Hoesodo ini memiliki kantor pusat di Lawang, Malang.
Soemajoedo menikah dengan Maria Fransisca Duppon Kremer (1889-1945). Atas perkawinan tersebut dikaruniai buah hati yang bernama Soemarmi Joedo.
Soemarmi Joedo kemudian menikah dengan dokter Soedioto, Kepala RSUD Jombang pertama di era kemerdekaan Indonesia (1947-1960).
Pada 1931, dr Soemarjoedo meninggal dunia dan dikebumikan di Kayulawang, Purworejo, Jawa Tengah. (ram/fen)
Editor : Martda Vadetya