PADA masa kolonial, mobil tak sekadar menjadi moda transportasi. Kendaraan roda empat ini sekaligus sebagai penanda status sosial karena hanya dimiliki oleh kalangan kelas atas.
Di Mojokerto, keberadaan kendaraan bermotor ini mulai jamak dijumpai di abad ke-19. Itu seiring dengan berkembangnya industri gula yang tersebar dari wilayah kota hingga kabupaten.
’’Pada masa itu kebanyakan mobil di Mojokerto dimiliki oleh para pejabat pabrik gula,’’ ungkap sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq.
Dengan belasan pabrik gula yang berdiri, maka mobil turut meramaikan arus lalu lintas di ruas jalan Mojokerto.
Tak hanya di perkotaan, kendaraan bermesin ini juga mulai lumrah dijumpai di jalan antarkecamatan hingga pedesaan.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menuturkan, pada masa prakemerdekaan, mobil termasuk sebagai barang mewah.
Tak hanya harga belinya yang mahal, biaya perawatan dan bahan bakar minyak (BBM) juga terbilang tak murah. ’’Sehingga mobil hanya dipunyai oleh orang yang penghasilan tinggi,’’ paparnya.
Sejak saat itu, mobil lalu menjadi moda transportasi yang digunakan oleh kalangan konglomerat.
Tak hanya sebagai kendaraan sehari-hari, namun lambat laun juga menjadi simbol pengakuan strata sosial bagi para pemiliknya. ’’Sebagian orang menganggap sebagai penanda status sosial,’’ sebut dia.
Pada awal kemunculannya, mobil jadi pusat perhatian masyarakat di tengah sarana transportasi tradisonal yang masih banyak digunakan masyarakat.
Di antaranya, delman, cikar, dan sepeda angin yang perlahan mulai tersisihkan. (ram/fen)
Editor : Martda Vadetya