PIMPINAN Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Mojokerto menggelar peringatan hari lahir (harlah) ke-91 hari ini, Kamis (24/4).
Sejak dibentuk pada 1934, organisasi kepemudaan yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama (NU) ini memiliki peran strategis dalam melawan penjajahan hingga mempertahankan kemerdekaan RI.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, embrio berdirinya PC GP Ansor Mojokerto berawal dari prakarsa Achyat Chalimy bersama para pemuda Mojokerto pada 1934.
Santri Pondok Pesantren Tebuireng yang dikenal sebagai Abah Yat ini pula yang kemudian dipercaya untuk menakhodai organisasi yang semula bernama Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) Mojokerto.
’’Ansor menjadi organisasi pertama yang ditapaki oleh Abah Yat sebagai ketua,’’ ungkapnya.
Penunjukan kursi Ketua GP Ansor Mojokerto itu dilakukan dari hasil musyawarah para pemuda di sebuah musala atau langgar panggung di Lingkungan Kradenan, Kelurahan Kauman.
Di bawah pimpinan Abah Yat muda, GP Ansor Mojokerto dengan cepat membentuk struktur kepengurusan di wilayah.
Kepengurusan GP Ansor Mojokerto dibentuk di empat wilayah kawedanan. Yakni Kawedanan Mojosari yang dipimpin Moenasir, Munadi, dan Mustaqim.
Kemudian, Kawedanan Jabung terdapat nama Sofwan dan Abdul Jalil sebagai pemimpin di wilayah selatan Mojokerto.
Sedangkan, di Kawedanan Mojokasri atau wilayah utara Sungai Brantas digawangi oleh Mansyur Solikhi dan Imam Mahdi.
Sementara di Kawedanan Mojokerto alias kota di bawah komando Abah Yat sendiri bersama Ahmad Rifai dan Samsumadyan.
’’Pembentukan pengurus wilayah bisa cepat dilakukan dengan memanfaatkan jaringan para santri,’’ ulasnya.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini memaparkan, GP Ansor Mojokerto mengalami perkembangan yang pesat karena diterima oleh kalangan pemuda.
Di samping itu, hal tersebut juga tak lepas dari peran Achyat Chalimy.
Mengingat, tokoh kelahiran 23 Maret 1918 ini memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi serta keterampilan dalam administratif.
Atas keberhasilannya di GP Ansor, Abah Yat kemudian kembali mendapat kepercayaan untuk mengisi kursi sekretaris di PC NU Mojokerto pada 1938.
Dengan tetap sebagai ketua GP Ansor Mojokerto, maka Abah Yat mengomandoi dua organisasi di tubuh NU itu di masa prakemerdekaan RI.
’’Posisi jabatan di dua organisasi ini dipegang Abah Yat hingga masa pendudukan Jepang,’’ tandas anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini. (ram/fen)