Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Ini Dampak Keberadaan Pasar di Kota Mojokerto Era Prakemerdekaan

Rizal Amrulloh • Kamis, 13 Maret 2025 | 06:00 WIB
TERAWAT: Musala yang menjadi salah satu bangunan dari Pasar Pon atau Pasar Hewan di Lingkungan Cakarayam, Kelurahan Mentikan, Kota Mojokerto. (foto: JPRM)
TERAWAT: Musala yang menjadi salah satu bangunan dari Pasar Pon atau Pasar Hewan di Lingkungan Cakarayam, Kelurahan Mentikan, Kota Mojokerto. (foto: JPRM)

SEMENTARA itu, dengan berdirinya Pasar Kranggan membuat pendapatan asli daerah (PAD) di Kota Mojokerto bertambah. Pundi-pundi itu diperoleh dari retribusi pedagang.

Ayuhanafiq menuturkan, keberadaan pasar tradisional menjadi salah satu penyangga PAD kala itu.

Setelah diresmikan pada tahun 1938, Pasar Kranggan langsung menerapkan retribusi sebagai biaya sewa lapak oleh pedagang.

”Saat awal pembukaan, tarif retribusi masih belum dikenakan separonya saja,” terangnya.

Retribusi serupa juga diterapkan pada pedagang di Pasar Kliwon dan Pasar Tanjung Anyar.

Meski harus sewa dengan tarif normal 1 sen per hari, para pedagang di Pasar Kranggan tidak merasa keberatan.

Mengingat, keberadaan Pasar Kranggan disambut animo tinggi masyarakat. Terlebih setelah kemerdekaan RI, Pasar Kranggan kian ramai dipadati pengunjung.

Yuhan mengungkapkan, hal itu tak lepas dari dipindahnya terminal angkutan dari Pasar Kliwon ke Kranggan.

Sejak saat itu, Kranggan menjelma menjadi sentra perdagangan. ”Karena lokasi terminalnya berada persis di sebelah timur Pasar Kranggan,” tambahnya.

Namun, tingkat kunjungan berangsur surut setelah terminal Mojokerto kembali dipindah dari Kranggan.

Akibatnya, pasar tradisional yang berdiri sejak masa kolonial ini makin sepi hingga saat ini. (ram/ris)

Editor : Martda Vadetya
#pendapatan #retribusi #pasar tanjung anyar #pedagang #Kota Mojokerto #pasar